Muslim Indonesia Dikepung Kristenisasi

    Share

    agase2
    Pion Menengah Artrab
    Pion Menengah Artrab

    Posting : 63
    Poin : 183

    Muslim Indonesia Dikepung Kristenisasi

    Post by agase2 on Mon 07 Dec 2009, 09:57

    Muslim memang mayoritas di Indonesia. Namun, gerakan Kristenisasi global yang mengancam bagai gelombang badai.
    Sebut saja namanya William. Seorang pengajar bahasa Inggris di salah satu lembaga pendidikan di sebuah kota di Jawa Barat. Warga negara asing yang berpenampilan friendly ini dengan mudah menjadi pusat perhatian siswa-siswa di tempatnya mengajar. Selain karena ia seorang native speaker, William pun membuka diri 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu bagi siswa-siswanya untuk berkonsultasi. Tentang apa saja, tak hanya soal pelajaran bahasa Inggris, tapi juga persoalan-persoalan pribadi.

    Tapi lama-lama, beberapa aktivis Islam di lembaga pendidikan tersebut mencium bau tak sedap di balik keramahan William. Dan benar saja, William ternyata seorang misionaris yang membawa agenda tertentu dari salah satu jaringan gerakan Kristenisasi global. Dari William berhasil ditemukan beberapa dokumen yang mengarah pada aksi Kristenisasi global yang menjadikan Jawa Barat sebagai sasaran.

    Dokumen yang penuh simbol dan sandi tersebut menunjukkan kode ESS yang akan menggarap 34 juta jiwa penduduk etnis Sunda. Modus operandi mereka terbagi menjadi dua kelompok kerja. Kelompok pertama bersandi dengan sebutan Macedonia yang akan melakukan gerakan dari arah Barat. Kelompok kedua bersandi Hebron yang akan bekerja dari arah Timur.

    Dalam peta aksi, ada tanda-tanda berbentuk segitiga, lingkaran dan bujur sangkar. Tanda-tanda tersebut kira-kira menandakan daerah yang berhasil direkrut, daerah garapan dan daerah yang belum terjamah. Jawa Barat terbagi menjadi beberapa lingkaran yang sudah dipenuhi oleh berbagai tanda tersebut di atas.

    Ustadz Abu Deedat, pakar Kristologi dari FAKTA membenarkan jika ada agenda Kristenisasi global yang mengancam Jawa Barat, khususnya suku Sunda. Menurutnya, suku Sunda telah lama masuk dalam daftar kerja kaum misionaris di Indonesia. �Menurut daftar mereka, ada 125 suku yang tergolong sulit ditaklukkan di Indonesia, dan suku Sunda adalah salah satu suku yang tersulit dan juga yang terbesar jumlahnya di seluruh dunia,� terang Ustadz Abud, begitu ia akrab disapa.

    Sebagai gambaran, Ustadz Abud mengatakan, di Cianjur ada salah satu desa yang seluruh penduduknya sudah berganti agama. Bahkan, di tiga Rukun Warga (RW) ada sembilan gereja yang sudah didirikan di daerah tersebut. Luar biasa.

    Selain program ESS yang entah singkatan dari apa, ada pula proyek Joshua 2000. Proyek internasional ini berkonsentrasi pada suku-suku di berbagai negara di belahan dunia termasuk Indonesia. Joshua 2000 ini punya data base demografis yang luar biasa detil dan mendalam. Seluruh suku yang tersebar di kepulauan Indonesia semuanya sudah terdaftar, berikut data-data pelengkapnya.

    Misalnya saja data tentang suku Sunda. Menurut data mereka, populasi penduduk suku Sunda sebanyak 32 juta jiwa. Dalam jumlah tersebut, telah ditempatkan 21 ribu penginjil yang telah bekerja atas nama Yesus. Sunda masuk dalam proyek Joshua sejak tahun 1995. Namun menurut data tersebut, injil di tanah pasundan telah beredar bahkan sejak tahun 1854. Di kelompok suku ini Joshua 2000 telah mengedarkan film Yesus, mendirikan Broadcasting Kristen dan mendirikan proyek radio rohani.

    Selain Sunda, suku lain yang dianggap target utama adalah Madura dan Aceh. Menurut data Joshua 2000 yang diup date pada tanggal 08 Mei 2003 ini populasi penduduk suku Madura sebanyak 13.480.900 jiwa. Proyek Joshua 2000 menyebutkan, 2% dari total populasi suku Madura telah memeluk Kristen dan hanya ada 500 penginjil yang bekerja dalam kelompok suku ini. Sedangkan untuk menggarap Muslim Aceh, Joshua 2000 menurunkan evangelis sebanyak 300 orang untuk menggarap 3,5 juta populasi suku Aceh.

    Proyek Joshua 2000 ini menempatkan Indonesia pada urutan kedua negara yang membutuhkan perencanaan pembangunan dan sentuhan gereja. Peter Wagner, pimpinan proyek Joshua 2000 menyebutkan bahwa wilayah 10/40 sebagai tempat pertahanan setan yang terakhir yang harus digempur.

    Selain Joshua 2000, ada pula proyek internasional bersandi Jericho 2003 yang bersidang di daerah Puncak, Januari 2003 lalu. Sumber SABILI menerangkan, menjelang sidang bertaraf internasional tersebut dilaksanakan, beberapa usaha telah dilakukan untuk mendapat data apa saja yang dibahas dalam sidang internasional tersebut. Namun, ketatnya jaringan dan masalah teknis lainnya membuat informasi sidang Kristenisasi internasional yang bocor ini tak bisa ditindaklanjuti.

    Ada pula proyek Kristenisasi yang dijalankan dan berpusat di Filipina. Namanya Tribes and Nation Outreach (TNO) atau program Menjangkau Bangsa-bangsa. Dalam buku panduan strategi Menjangkau Bangsa-bangsa, misi organisasi ini adalah menyebarkan injil dan mengabarkan Yesus sebagai juruselamat kepada berbagai bangsa, khususnya yang tersebar di Indonesia.

    Dalam aksinya, TNO menitik beratkan gerakan dengan cara Multi Level Misi (MLM). TNO juga telah mendirikan pusat-pusat pendidikan yang disebut Sekolah Pekerja Kristus (SPK) di berbagai negara, terutama Indonesia. Pada kata pengantar yang ditulis oleh Joseph, Direktur Internasional TNO di buku strategi Menjangkau Bangsa-bangsa ini, SPK benar-benar efektif dan berhasil. Dalam tulisannya Joseph bercerita tentang seorang gembala yang sangat berhasil setelah mengikuti program Sekolah Pekerja Kristus.

    Sebelum mengikuti SPK, sang gembala tersebut hanya mengembalakan 17 gereja suku. Namun setelah mengikuti program SPK, dalam waktu tiga tahun ia mampu merintis 47 gereja baru dan melatih 114 pekerja kristus baru. Suku Mindanao, yang notabene adalah pemeluk Islam adalah laboratorium yang dijadikan olehnya sebagai tempat menjalankan misi. �Sekolah Pekerja Kristus ini telah membuat kami takjub. Sesungguhnya ini adalah sebuah metode yang diberikan Allah untuk menjangkau dan memenangkan bangsa-bangsa bagi Yesus. Dalam lima tahun terakhir, tim pelatih SPK telah berkeliling ke Indonesia, India, Muangthai, Vietnam, Burma dan Cina,� tulis Joseph.

    Menurut Diki Chandra, Sekjen Arimatea, sebuah lembaga bergerak di bidang advokasi dan imunisasi aqidah, gerakan TNO ini sudah masuk dan melakukan aksinya di Indonesia. �Jadi sebetulnya, surat yang pernah ditulis oleh Presiden Aroyo kepada Presiden Bush tentang menegakkan Imperium Kristus di Asia Tenggara ini benar adanya,� terang Diki Chandra.

    Masih menurut Diki, gerakan-gerakan yang dilakukan oleh Kristenisasi trans-nasional ini adalah gerakan yang rapi, dengan struktur yang kuat tapi tersembunyi dan juga memiliki manajemen yang rapi. �Kelompok pelaku Kristenisasi secara umum bisa kita bagi dua. Protestan menggarap kaum intelektual dan ekonomi atas, sedangkan Katolik menggarap kaum pinggiran, baik mereka yang belum mapan secara ekonomi maupun secara intelektual,� ujar Diki pada SABILI.

    Selain TNO, gerakan yang tergolong cukup radikal menjalankan aksinya adalah Gabungan Pengusaha Injili. Organisasi yang berinduk ke Amerika Serikat ini beranggotakan beberapa konglomerat papan atas Indonesia yang sudah tak asing lagi di telinga publik. Tidak saja pengusaha tingkat nasional, di tingkat daerah dan lokal pun anggota mereka berjumlah ribuan. Gerakan organisasi ini di Indonesia dimotori oleh seorang mantan petinggi TNI berpangkat terakhir Letnan Jenderal yang memang terkenal militan dan radikal.

    Berbagai gerakan di atas belum termasuk pemain-pemain Kristenisasi berskala lokal yang tak kalah agresif gerakannya. Sebut saja, empat orang pendeta yang sudah terkenal sepak terjangnya. Pendeta Yusuf Roni, yang pernah dipenjara selama enam tahun karena menghina Islam punya gerakan yang cukup masif bercover STT Apostolos. Lalu ada pula Bambang Noorsena dengan Kristen Ortodoks Syiria yang punya ciri mirip Muslim tersebut. Mereka shalat, tapi menghadap ke Timur, mereka berjilbab dan mengaji injil dalam bahasa Arab. Ada pula Josias Lengkong dengan STT Kalimatullah yang juga aktif melakukan kajian-kajian Islam Kristen dengan maksus-maksud tertentu. Dan ada pula Pendeta Edy Sapto dengan gerakan Kiai Sadrahnya yang mencoba memurtadkan kalangan awam dan masyarakat pedesaan.

    Ini belum lagi ditambah dengan salah satu kelompok yang bermarkas dalam nama besar Lippo. Menurut sumber SABILI, kelompok yang satu ini bahkan memiliki sebuah institut untuk pelatihan pemimpin Kristen tingkat Asia Pasifik. Masih menurut sumber yang sama, di daerah itu pula setiap pekan tak kurang dari 40 Muslim dibaptis menjadi domba-domba baru yang siap menjalankan misi dan mencari domba lain untuk �diselamatkan�.

    Ada pula proyek Karapan 2004 yang ditujukan untuk etnis Madura dan ada proyek Rencong 2004 untuk Muslim Aceh. Khusus yang terakhir ini, gerakan-gerakan mereka mendompleng operasi kemanusiaan yang akan diterjunkan ke Aceh saat ini. (Baca: Proyek Murtad untuk Serambi Makkah)
    Selain proyek dan program yang bersifat aksi pemurtadan, ada pula proyek yang bergerak di bidang politik. Proyek Yusuf 2004 namanya. Proyek ini mengincar posisi RI 1 yang harus diduduki oleh hamba Yesus. Sesuai namanya, proyek ini diambil dari kisah Nabi Yusuf yang berhasil menjadi penguasa di negeri Asing dan dalam kondisi minoritas. Dalam dokumen-dokumen yang berhasil dikumpulkan SABILI, proyek ini menyerukan agar seluruh pemeluk Kristiani untuk bersatu padu memenangkan hamba tuhan menjadi presiden pada pemilihan umum 2004 nanti.

    Dalam sosialisasi proyeknya, Yusuf 2004 mengatakan bahwa saat ini jumlah populasi hamba Yesus di negeri ini lebih dari 25% dari total penduduk. Mereka memperkirakan, kekuatan suara umat Islam pasti akan terpecah-pecah ke banyak partai yang ada, termasuk partai-partai Islam yang susah bersatu. Dengan kondisi seperti itu, dan kemungkinan pemilihan presiden secara langsung, proyek Yusuf 2004 optimis menuai keberhasilan. Jika ini terjadi, nasib umat Islam benar-benar seperti telur di ujung tanduk.
    Kristenisasi dan pemurtadan, sungguh ancaman yang nyata. Bukan isu, bukan isapan jempol semata. Saat ini memang kita masih bisa bangga menjadi mayoritas di negeri ini. Tapi, jika tak waspada, apalagi lengah, sebutan mayoritas hanya tinggal sejarah. Dan umat Islam Indonesia pun, tinggal menunggu waktu saja. Jangan biarkan ini terjadi!

      Waktu sekarang Tue 28 Feb 2017, 21:56