METODE PENGKAJIAN HADITS DI UNIVERSITAS-UNIVERSITAS ORIENTALIS DI BARAT

    Share
    avatar
    agase2
    Pion Menengah Artrab
    Pion Menengah Artrab

    Posting : 63
    Poin : 183

    METODE PENGKAJIAN HADITS DI UNIVERSITAS-UNIVERSITAS ORIENTALIS DI BARAT

    Post by agase2 on Mon 07 Dec 2009, 09:46

    submitted by : Nabiel Fuad Almusawa
    sumber : Forum Agama Islam Fasilkom

    CIRI-CIRI DARI KARYA ORIENTALIS BARAT (Siimatu buhuutsihim)
    1.Didasari sikap buruk sangka, baik terhadap landasan2, nilai2, maupun hal lain yang berkaitan dg Islam (su\'uzhan al fahmi likulli ma yattashilu bil Islam), sehingga hasil2 penelitian dan karya2 mereka adalah keraguan terhadap Islam (syakkun) dan kesimpulan2 yang mereka buat keliru (khatha\'an).

    2. Didasari sikap buruk sangka terhadap para ulama-ulama Islam serta para pemimpin-pemimpin Islam (su\'uzhan bi rijalil muslimina wa \'ulama\'ihim wa \'uzhama\'ihim), sehingga tidak ada ajaran Islam yg dpt diterima oleh mereka.

    3. Memberikan gambaran bahwa masyarakat Islam adalah masyarakat yang senang berselisih atau berada pada periode peperangan (tashawwuril mujtama\'ul islami fi mukhtalifil \'ushur/mujtama\'ul mutafakkik). Kesan ini terutama ditujukan pada masa-masa awal Islam, pertentangan kecil dibesar-besarkan. Seperti pertentangan antara Ali ra dg Mu\'awiyyah ra, antara Ali ra dg Aisyah ra.

    4. Melukiskan kebudayaan atau peradaban Islam dengan gambaran yang tidak sesuai, ditambahi penyimpangan-penyimpangan dan khayalan-khayalan mereka disana-sini tashawwurul hadharatil Islamiyyati tashawwuran duna waqi\'in). Seperti kitab2 yg mereka gunakan acuan dalam sejarah Islam mereka ambil dari kitab-kitab karangan para pujangga dan penyair dan tidak mengambil dari sumber yg shahih.

    5. Melihat Islam hanya dari sisi pertentangannya saja/bodoh terhadap sifat masyarakat Islam yg hakiki (al jahlu bi habi\'atil mujtama\'il islami \'ala haqiqatihi). Mereka melihat masyarakat Islam dg menyamakannya dg bangsa-bangsa mereka zaman dahulu.

    6. Sudah lebih dulu membuat prakonsepsi/batasan2 thd nash2 Islam, yang disesuaikan dengan pemikiran mereka (ikhdha\'in nushushi li fikratihim). Seperti ayat Al-Qur\'an mereka tafsirkan sendiri, makna hadits mereka tafsirkan sendiri disesuaikan dengan fikrah mereka.

    7. Mengadakan penyimpangan thd nash-nash baik yg tekstual maupun kontekstual (maksudnya) dan jika tidak dapat juga mereka simpangkan secara langsung karena jelasnya makna nash tersebut, maka mereka melakukannya dengan melalui perumpamaan-perumpamaan (tahrifuhum lin nushushi minal ahyani maqshudan bil \'ibarat).

    8. Memberikan status hukum sendiri terhadap referensi-referensi ke-Islaman (tahakkumuhum lil mashadir), artinya mereka menentukan sendiri standar bagi referensi-referensi Islam tersebut. Seperti menshahihkan kitab al-Hayawan karangan ad-Damiri sebagai kitab hadits shahih, padahal kitab itu ttg bahasa Arab, disisi lain mendustakan kitab al-Muwaththa\' karangan Imam Malik padahal kitab ini merupakan kitab induk hadits shahih. Dalam mempelajari fiqh Islam mereka menggunakan kitab-kitab tarikh seperti Tarikh at-Thabari, as-Sirah karangan Ibnu Hisyam;

    PANDANGAN TOKOH ORIENTALIS PROF. GOLDZIHER DAN BANTAHANNYA
    1. Dalam masalah hadits, periode sahabat ra dianggap periode primordial/kanak2(\'ahdu thufulah), sehingga hadits dianggapnya masih kanak2 dan belum matang pada masa itu, oleh karenanya maka as-sunnah menurutnya adalah bukan sesuatu yang baku/ketetapan dalam hukum karena masih blm sempurna.

    BANTAHANNYA : Mereka menganggap perkembangan suatu generasi adalah seperti perkembangan manusia (anak-remaja-dewasa-tua). Ini prakonsepsi yang salah, karena kematangan suatu kaum tidak ditentukan oleh waktu, tetapi ditentukan oleh bgm tingkat konsistensi sistem kehidupannya (soliditas hukum, tatanan masyarakatnya dan tingkat peradabannya). Jika menggunakan konsepsi mereka, maka bagaimana mungkin pada masa itu bisa tercipta sebuah tatanan masyarakat yang sangat tinggi sehingga mampu mengalahkan 2 super-power dunia saat itu yaitu Byzantium dan Persia.

    2.Dia juga menganggap periode perkembangan Islam saat awal tersebut belum matang yang kemudian baru matang pada abad2 selanjutnya.
    BANTAHANNNYA : Pendapat ini pula yang dikemukakan oleh Cak Nur yg menyatakan bahwa masa kesempurnaan Islam ada pada masa Abbasiyyah, padahal pada kenyataannya masa Abbasiyyah ini Islam telah dirusak oleh berbagai pemikiran yg menyimpang, seperti filsafat Yunani, dan berkembangnya berbagai aliran sempalan seperti Syi\'ah, Mu\'tazilah, Khawarij, Murji\'ah dsb.

    3.Diapun menjelek-jelekkan para pemimpin bani Umayyah dan mencap mereka semua sebagai ahli duniawi dan para penjajah Islam.

    BANTAHANNNYA : Hal ini tidak benar berdasarkan argumentasi sbb :
    a. Pd masa itu justru dilakukan pengumpulan hadits yang sebelumnya masih terpencar-pencar di berbagai daerah dan dilakukan pula pengklasifikasinnya secara tertulis dan ilmiah.

    b. Tentang tuduhan bahwa mereka ahli dunia, maka banyak khalifah bani Umayyah yang sangat abid dan alim, salah seorang diantaranya adalah khalifah Abdul Malik bin Marwan yg digelari \"burung dara mesjid\" (hamamatul masjid), karena setiap selesai tugas-tugas pemerintahannya, ia senantiasa menangis di mesjid. Kesaksian sahabat Ibnu Umar ra saat ditanya siapa pengganti khalifah Marwan?
    Dijawab oleh Ibnu Umar ra : Shullu hadzal ghulam! (Pilih oleh kalian semua anak muda ini!).

    c. Dan masih banyak khalifah-khalifah bani Umayyah lainnya seperti Abdul Azis dan anaknya Umar yg anaknya ini digelari sbg khalifah rasyidin kelima, karena selama 2,5 th pemerintahannya kaum muslimin berada dlm kemakmuran dan kehidupan beragama yg luar biasa bagusnya.

    d. Bahwa semua mesjid dibangun dan diperbaiki pd masa ini, seperti Walid bin Abdul Malik adalah yg membangun mesjid al-Quds (al-Aqsha) di Palestina, setelah hancur dibakar orang Yahudi.

    e. Diapun mencurigai dan menuduh para ulama besar tabi\'in agar kaum muslimin tidak percaya pada mereka. Diantaranya adalah tuduhan mereka pd Imam az-Zuhri (Abubakar bin Muslim, salah seorang tabi\'in, wafat th 51-H) sebagai pendusta dan penjilat para penguasa. Padahal Imam az-Zuhri (rahimahullah) adalah seorang hafizh hadits guru dari Imam abu Hanifah (pemimpin mazhab Hanafi). Imam az Zuhri ini adalah guru khalifah Abdul Malik bin Marwan, dan ia adalah salah seorang jenius ummat ini, pd usia 10 tahun ia sudah mampu menghafal al-Qur\'an dalam 80 hari! Demikian cerdasnya beliau ini sehingga tidak ada satu katapun yang didengarnya kecuali ia hafal seumur hidupnya, sehingga pernah Imam a\'id bin Musayyib (guru Imam Malik) tdk sempat menghadiri pidato khalifah yg cukup panjang (6 jam), maka dipanggillah Imam az-Zuhri untuk menceritakannya, maka disampaikan kembali oleh Az-Zuhri selama 6 jam pula lengkap dg titik dan komanya. Beliau rahimahullah jika masuk di pasar selalu menutup telinganya, karena takut berdosa, sebab setiap perkataan yg didengarnya pasti ia hafal seumur hidupnya ...

    Rabbi zidna \'ilman nafi\'an, warzuqna fahman daqiqan ...

      Waktu sekarang Mon 18 Dec 2017, 00:27