Salatiga, Di Bawah Bayang-bayang Kristen

    Share
    avatar
    agase2
    Pion Menengah Artrab
    Pion Menengah Artrab

    Posting : 63
    Poin : 183

    Salatiga, Di Bawah Bayang-bayang Kristen

    Post by agase2 on Mon 07 Dec 2009, 09:45

    Padahal jumlah mereka minoritas. Lha, ummat Islamnya ke mana saja?

    Sederetan mobil keluaran tahun 1997 sampai 2000-an kelihatan berjejer di bawah pohon yang rindang. Mobil-mobil itu ada yang bernomor polisi Jakarta, Malang, Manado, Kendari dan Semarang. Tak lama kemudian muncul sekelompok mahasiswa-mahasiswi dari gedung berlantai lima yang artistik memasuki mobil-mobil itu. Dilihat dari logat bicaranya, tampak sekali kalau mereka berasal dari daerah dimana nomor polisi itu berasal.

    Mereka itu adalah para mahasiswa-mahasiswi Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga Jawa Tengah yang terkenal itu. Kampus yang asri dan tertata rapi yang luasnya 12 hektar itu mahasiswanya memang dikenal berasal dari seluruh propinsi di Indonesia. Bahkan ada yang datang dari manca negara, Timor Timur. Dari kampus ini juga lahir beberapa dosen dan alumni UKSW yang kini menjadi tokoh nasional seperti DR. Arif Budiman (kini dosen di salah satu perguruan tinggi di Australia), Mathori Abdul Jalil (Menhan) dan DR. Ariel Haryanto, seorang kolumnis kondang.

    Sudah barang tentu Salatiga sebagai kota dimana UKSW berada namanya juga ikut terangkat. Setiap orang yang ingat UKSW pasti ia juga ingat Salatiga. Salatiga dan UKSW seakan sudah menjadi dua nama yang melekat. Hanya saja, keterkaitan kedua nama itu terkadang menyesatkan. Hanya karena universitas yang memiliki 9.350 mahasiswa itu berada di kota yang terletak di lereng gunung Merbabu itu, maka pandangan orang terhadap kota itu juga tidak jauh dengan persepsinya terhadap UKSW. Banyak orang yang menilai bahwa Salatiga adalah kota Kristen. Penilaian ini timbul karena mereka melihat UKSW. Universitas tersebut selama ini dikenal sebagai salah satu kampus tempat pengkaderan misionaris Kristen terbesar di Indonesia Timur. "Image itu memang dikondisikan UKSW," ungkap Mc. Paulus, salah seorang tokoh Kristen Salatiga, yang juga salah satu ketua persaudaraan antar agama di Salatiga.

    Ditambah lagi, di kota yang sejuk ini banyak lembaga pendidikan Kristen berdiri. Selain UKSW juga ada empat sekolah tinggi teologi dan lembaga pendidikan dasar dan menengah yang jumlahnya cukup banyak.

    "Kami harus akui bahwa dikenalnya Salatiga ini karena UKSW," kata Mustofa, salah seorang pengusaha muda di kota tersebut. Tapi ia menolak keras jika kotanya dijuluki sebagai kota Kristen. Karena dalam realitanya mayoritas penduduknya adalah Muslim. "80% penduduk Salatiga adalah ummat Islam," kata ketua MUI Salatiga, KH. Drs. Tamam Qaolany menambahkan. Menurut Tamam, kesan seperti itu muncul karena gencarnya publikasi UKSW mengkampanyekan Salatiga sebagai kota Kristen. Padahal publikasi itu tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Seharusnya sebutan itu diimbangi dengan jumlah pemeluknya. Sedangkan jumlah ummat Kristiani di kota itu hanya 11%. "Sebagai warga kota Salatiga dan seorang Muslim saya perlu meluruskan kesan tersebut," kata kakek yang pernah mengislamkan dua dosen dari Australia sewaktu diminta mengisi materi "Teologi Islam" dalam sebuah seminar di UKSW tahun 1996 yang dihadiri oleh dosen dari 8 negara Eropa dan Australia.

    Harus diakui, meski jumlah ummatnya minoritas, namun sekolah-sekolah Kristen di Salatiga jauh lebih mapan ketimbang sekolah-sekolah Islam. "Karena mereka memang sudah lama menggelutinya," kata M. Badwan, MAg, Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga. Hal itu juga terkait dengan sejarah kota Salatiga. Sejak zaman penjajahan, Salatiga sudah dijadikan sebagai tempat pemukiman dan pendidikan bangsa Belanda yang notabene beragama Kristen. Sehingga wajar jika mereka jauh lebih mapan dibanding sekolah-sekolah Islam.


    Ummat Islam Bangun

    Terletak di sebelah utara Solo, Salatiga merupakan sebuah kawasan yang sejuk dan asri buatan Belanda. Dulu, kawasan ini merupakan tempat peristirahatan dan pemukiman orang-orang Belanda. Dalam perkembangannya, Belanda juga menjadikan kawasan itu sebagai pusat kegiatan Kristenisasi.

    "(Tetapi) Meski sudah bertahun-tahun dijadikan sebagai pusat Kristenisasi oleh Belanda, nyatanya masyarakat Muslim di sini masih eksis," kata Badwan yang paham betul tentang sejarah perkembangan kota ini. Makanya ia mempertanyakan anggapan kota tua ini dikatakan sebagai kota Kristen. Karenanya, bagi Badwan sebutan itu hanya lipstik dan tidak pada tempatnya.

    Sekarang, Salatiga mengalami pemekaran wilayah dan karenanya kemudian berubah menjadi kotamadya. Jika sebelumnya kota Salatiga hanya meliputi kecamatan Salatiga saja, maka dengan berubahnya status itu kini bertambah pula jumlah wilayah kecamatannya, antara lain kecamatan Sidorejo, Sidomukti, Pabelan dan Tuntang. "Kecamatan-kecamatan tambahan tersebut merupakan kantong Islam yang kuat," tambah Badwan, alumni Pasca Sarjana IAIN Yogjakarta ini.

    Tentu saja masuknya kecamatan-kacamata baru itu semakin menambah jumlah ummat Islam di Salatiga. Hanya saja, jumlah yang besar saja tidak ada artinya bila tidak berkualitas. Alhamdulillah, beberapa tahun belakangan ini geliat da'wah mulai terasa. Itu diakui M Zulwa, salah satu ketua Muhammadiyah Salatiga. "Dalam lima tahun terakhir ini semarak da'wah memang sangat terasa di Salatiga," katanya.

    Untuk membentengi ummat Islam dari pengaruh Kristenisasi, kaum muslimin Salatiga saat ini juga aktif melakukan kegiatan-kegiatan da'wah seperti pendirian Taman Pendidikan al-Qur'an (TPA) dan pengajian-pengajian. Hampir semua kampung di sana telah berdiri TPA-TPA.

    Selain itu juga terdapat beberapa kelompok pengajian yang memiliki jamaah besar. Seperti Kelompok Pengajian Pensiunan Salatiga "As Sakinah" yang kini jumlah jamaahnya 400 orang. Demikian pula pengajian-pengajian di masjid dan musholla juga berjalan baik.

    Da'wah tersebut semakin marak saat tiba hari raya Islam. Kaum muslimin, tak peduli dari kelompok mana, bersama-sama merayakannya dengan gebyar da'wah seperti pawai keliling kota dan perlombaan-perlombaan Islami. "Setidaknya hal ini menunjukkan bahwa da'wah ummat Islam di sini terus berjalan," kata Suhada.

    Di samping NU, Muhammadiyah, Al Irsyad, dan ormas Islam lainnya juga banyak lembaga swadaya masyarakat (LSM) Muslim dan lembaga da'wah yang aktif melakukan pembinaan terhadap masyarakat seperti PP An-Nida', Wahana Bhakti, Hidayatullah, dll. Mereka aktif membina kawula muda seperti anak-anak SMU, mahasiswa, dan remaja masjid.

    Kebangkitan juga terjadi dalam bidang pendidikan. Sekolah-sekolah Islam mulai tumbuh subur, terutama untuk tingkat menengah ke bawah. Antara lain SD Islam Al Azhar, sekolah di bawah yayasan LPIA dan Muhammadiyah. Bahkan sekolah-sekolah Islam itu sudah menjadi pilihan utama ummat. Menurut Suhada, tokoh pendidikan di Salatiga, jumlah siswanya terus bertambah tiap tahun. Contohnya, TK Islam milik LPIA, siswanya sekarang 300 anak, suatu jumlah yang besar untuk ukuran taman kanak-kanak.

    Di tingkat perguruan tinggi ada STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) yang berdiri sejak lima tahun lalu. Ke depan, diharapkan reputasi dan kualitas STAIN mampu melebihi atau setidaknya sejajar dengan UKSW.

    Hanya saja, bangkitnya da'wah dan pendidikan Islam itu ternyata belum mampu menghentikan Kristenisasi di Salatiga. "Kristenisasi jalan terus," kata Imam, yang juga seorang aktivis Islam yang rajin mengumpulkan data-data Kristenisasi. Sebagai bukti, Imam menyebutkan beberapa nama tetangganya yang dulunya Muslim kini sebagian ada yang pindah agama. Itu menunjukkan gerakan memurtadkan ummat Islam masih terus berlangsung.

    "Bagi kami yang terpenting jangan sampai mereka melakukan pemaksaan kepada ummat Islam untuk masuk Kristen," kata Suhada, yang juga seorang da'i. Pernah seorang misionaris dari Amerika beberapa waktu lalu. Misionaris itu diusir dari salah satu desa di Salatiga karena terbukti melakukan kegiatan misi yang bersifat pemaksaan.

    Pernyataan Suhada itu tentu perlu ditambahi, bukan saja pemaksaan yang dilarang, menyebarkan agama lain kepada orang yang sudah beragama itu juga tidak boleh. Begitulah aturan main sesungguhnya.� (A. Sukur, Bahrul/Hidayatullah) Kristen. Catatan-catatan pribadinya bahkan kini jadi bagian penting kitab suci Kristen (Bible).

      Waktu sekarang Sat 29 Jul 2017, 00:05