Fatwa mati murtadin Suradi : Pelesetan Babi dan Babu

    Share
    avatar
    agase2
    Pion Menengah Artrab
    Pion Menengah Artrab

    Posting : 63
    Poin : 183

    Fatwa mati murtadin Suradi : Pelesetan Babi dan Babu

    Post by agase2 on Mon 07 Dec 2009, 09:42

    ''BERAPA kali Saudara sembahyang dalam sehari?'' tanya Dokter Suradi ben Abraham. Pemuda yang sedang berobat kepadanya, sebut saja Jamal, menjawab: ''Lima kali, Pak.'' Mendengar jawaban itu, Suradi bicara lagi: ''Berarti Saudara selalu baca ihdinash shirath al-mustaqim (tunjukkan kami jalan yang lurus --Red). Shirath al-mustaqim itu apa?'' Jamal menjawab polos: ''Belum tahu, Pak.''

    Atas jawaban itu, Suradi kembali mencecarkan pertanyaannya, ''Sudah berapa lama Saudara sembahyang?'' ''Wah, sudah tahunan, Pak,'' kata Jamal. ''Al-Quran sudah menjawab apa itu shirath al-mustaqim,'' kata Suradi. Ia lalu mengutip dan menerjemahkan kalimat per kalimat ayat 61 surat Al-Zukhruf, ''Wa innahu la'ilmun lissa'ah. Sesungguhnya Yesus itu tahu tentang hari kiamat. Fala tamtarunna biha. Jangan ragu-ragu menerima dia, menerima Isa itu. Wattabi'uni. Ikutilah dia. Hadza shirathun mustaqim, dia itulah jalan yang lurus. Jadi, shirath al-mustaqim itu menurut Quran adalah Yesus.''

    Begitulah penggalan transkrip ceramah Evangelis Suradi yang beredar di masyarakat belakangan ini. Kala cerita itu dikonfirmasikan Gatra, Suradi tidak membantah. Itulah isi ceramahnya tahun 1990. Model pemaknaan ayat tersebut, bagi Masyhud --pengkaji kristologi asal Surabaya-- adalah contoh kebiasaan Suradi dalam menjungkirbalikkan makna ayat Quran. Masyhud telah dua kali berdebat resmi dengan kalangan Nehemia pada 1995.

    Kalimat fala tamtarunna biha itu semestinya bermakna, ''Janganlah kamu meragukan hari kiamat.'' Kata biha merujuk pada kata sa'ah (kiamat), bukan pada kata Isa, seperti diartikan Suradi. Sedangkan kalimat wattabi'uni hadza shiratun mustaqim berarti ''ikutilah Aku (Allah), inilah jalan yang lurus.'' Dengan demikian, shirath mustaqim adalah ketaatan pada Allah, bukan Yesus. ''Suradi menafsiri Al-Quran semaunya sendiri,'' kata ahli tafsir dari Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel, Surabaya, Prof. Dr. Imam Muchlas, kepada Mujib Rahman dari Gatra.

    Suradi memang punya perhatian besar pada Al-Quran. Dalam buletin Gema Nehemia edisi 32, dokter lulusan Universitas Diponegoro, Semarang, ini menghabiskan 48 dari 66 halaman untuk memperdebatkan ayat-ayat Al-Quran yang dinilainya ganjil, bersama seorang koresponden bernama Zainal Abidin. Suradi menyimpulkan bahwa ada 364 pertentangan antarayat dalam Al-Quran. ''Jadi, Al-Quran itu bukan wahyu Allah,'' kata Suradi kepada Ronald Panggabean dari Gatra. Alasannya, karena menurut surat An-Nisa' ayat 82, ciri wahyu Allah adalah jika tak ada pertentangan di dalamnya.

    Contoh kontradiksi Al-Quran yang sering disebut-sebut Suradi adalah ayat-ayat tentang zina. Pada ayat 32 surat Al-Isra' disebutkan mengharamkan zina. Tapi, ayat 5-6 surat Al-Mukminun membolehkan berhubungan seksual dengan budak. ''Mengumbar kemaluan pada budak itu kan zina,'' kata Suradi. Ia pun punya ''ledekan'' populer, ''Bagi orang Kristen, babi itu halal, sedangkan babu haram. Namun, bagi orang Islam, babi itu haram, dan babu itu halal.'' Suradi menyamakan budak dengan babu.

    Di mata Ketua Majelis Ulama Indonesia, Prof. Dr. Umar Shihab, pemahaman Suradi itu menunjukkan kedangkalan pengetahuannya tentang Islam. ''Ia hanya baca teks Al-Quran, tapi tidak mendalami hadis dan pendapat para ahli fikih,'' kata Umar. Kala Islam hadir, perbudakan telah menjadi gejala umum. Tidak hanya di Timur Tengah, melainkan juga di Eropa dan India. ''Semangat Islam adalah menghapus perbudakan dengan cara bertahap,'' kata guru besar hukum Islam IAIN Yogyakarta, Prof. Saad Abdul Wahid.

    ''Saat sistem perbudakan dianut, status hukum budak adalah milik tuannya,'' kata ahli hadis dari IAIN Bandung, Dr. Daud Rasyid, kepada Rohman Hudaya dari Gatra. Itu seperti istri yang sah menjadi milik suami, sehingga sah pula digauli.

    Menggauli budak itu berbeda dengan zina. Ketika sang budak digauli, saat itu ada proses pembebasan. Karena anak sang budak, ketika lahir kelak, otomatis merdeka. Bila sang tuan meninggal, si budak tidak menjadi harta warisan, melainkan terbebas dari statusnya sebagai budak. Status halal budak itu melekat pada saat transaksi pembelian budak.

    ''Budak itu berbeda dengan pembantu pada zaman sekarang,'' kata pengurus Majelis Tarjih Muhammadiyah, Prof. Asmuni Abdurrahman. Sebab, kini sudah tak ada lagi manusia yang memenuhi kriteria budak, seperti yang berlaku pada masa awal Islam. Sekarang tidak bisa lagi seseorang mengklaim sah berhubungan seksual dengan budak. ''Ketentuan halal berhubungan seks dengan budak saat ini tidak relevan, karena sudah tak ada budak,'' kata Hakim Agung Dr. Rifyal Ka'bah. [Asrori S. Karni, Sujoko, dan Nurul Fitriyah]
    [Laporan Utama Gatra Nomor 16 Beredar Senin 5 Maret 2001]

      Waktu sekarang Mon 27 Mar 2017, 15:29