Awas Qasidah Nasrani

    Share
    avatar
    agase2
    Pion Menengah Artrab
    Pion Menengah Artrab

    Posting : 63
    Poin : 183

    Awas Qasidah Nasrani

    Post by agase2 on Mon 07 Dec 2009, 09:33

    Biasanya, syair qasidah berisi tentang dakwah dan peringatan bagi umat Islam. Meski bukan warisan Nabi, qasidah yang digemari kebanyakan umat Islam Indonesiag ini identik dengan budaya Islam. Tapi, para penggemar qasidah, harus waspada. Pasalnya, sentuhan seni ala qasidah bisa dijadikan alat pemurtadan oleh para penginjil.

    Salah satunya dilakukan oleh seorang penginjil asal lamongan, Jawa Timur. Ia merilis album qasidah Nasrani yang berisi enam lagu berbahasa Arab, dua lainnya berbahasa Indonesia dan Ibrani. Keenam lagu berbahasa Arab itu berjudul "Isa Almasih Qudrotulloh, Allahu Akbar, Laukanallohu Aba'akum, Isa Kalimatullah, Ahlan Wasahlan Bismirobbina, Nahmaduka Ya Allah".

    Pada sampul kaset yang berdurasi 40 menit, terdapat hiasan kaligrafi khas Arab yang melingkari kata Ta'alau ilayya. Masyarakat awam bisa terkecoh dan menganggap sebagai kaligrafi al-Qur'an. Padahal, kaligrafi ini berbunyi : "Ta'alauu Ilayya ya jamili'al mu'tabiina watstsaqiilii al-ahmaali qa ana urihukum.". Kalimat ini adalah terjemahan bahasa Arab Injil Matius 11:28-30, "Marilah kepadaku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, aku akan memberi kelegaan kepadamu."

    Dalam pengantarnya, sang vokalias yang mengaku sebagai mantan ustadz dari Lamongan itu menulis, "Syukron Alhamdulillah puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yesus karena begitu besar kasih karunia-Nya sehingga album ini bisa terselesaikan dengan baik tanpa halangan suatu apapun. Kami sangat berharap, dengan album bahasa Arab ini, bisa menjadi berkat untuk semua kalangan dan dapat dimengerti serta diterima oleh semua masyarakat. Selain daripada itu, dengan lagu bahasa Arab ini semoga bisa mengubah paradigma masyarakat akan kekristenan secara benar."

    Jelas sudah, lagu Kristen berirama padang pasir ini bertujuan menjajakan ajaran Kristen dan doktrin Ketuhanan Yesus pada semua orang. Langkah ini salah besar, karena bertentangan dengan ajaran Yesus.

    Pertama, Yesus tak pernah memerintahkan para muridnya untuk memanjatkan puji syukur padanya. Injil Lukas mengisahkan, seorang pengemis tuna netra di Yerikho yang disembuhkan Yesus dengan izin Allah hingga bisa melihat, bergembira dengan bersyukur pada Allah, bukan pada Yesus (Injil Lukas 18:35-43). Seluruh rakyat yang menyaksikannya pun turut memuji-muji Allah, bukan Yesus. Ketika memasuki kota Yerusalem dengan mengendarai keledai, Yesus diiringi murid-muridnya dengan gembira seraya memuji Allah, bukan Yesus (Lukas 19:35-37).

    Para Nabi dalam Perjanjian Lama juga tak ada yang memanjatkan puji-pujian pada Yesus. Mereka hanya memuji dan bersyukur pada Allah. Nabi Daud mengajarkan untuk memuji Allah (I Samuel 25:32, Mazmur 41:14, mazmur 113:1, Mazmur 150:1). Selain itu, memanjatkan puji syukur pada Yesus nertentangan dengan Alkitab.

    "Terpujilah nama Allah dari selama-lamanya sampai selama-lamanya, sebab dari pada Dialah hikmat dan kekuatan" (Daniel 2:20)

    Kedua, Yesus mewanti - wanti pada murid untuk menyebarkan ajarannya hanya pada domba-domba yang yhilang dari umat Israel. Mewartakan ajaran Yesus pada bangsa lain adalah sebuah penyimpangan di mata Yesus (Injil Matius 10:5-6)

    Pada side A di mulai dengan lagu "Isa Almasih Qudrotulloh". Liriknya antara lain berbunyi, "Isa Almasih Qudrotulloh. Lianna fiihi a'laanallohu. Ana huwa thooriiqu walhaqqu walhabaatuhu. Laa baaji'uu ahadun ilal aba illa bib". Dalam album ini, kalimat tersebut diartikan : "Isa Almasih kekuatan Allah, di dalam dia nyata kebenaran-Nya. Akulah jalan, kebenaran dan hidup, tak seorangpun yang datang kepada Bapa kecuali lewat aku."

    Penginjil menganggap, umat islam akan tertipu dengan hal - hal yang berbau Arab. Mereka berharap, umat Islam bisa digiring pada doktrin Kristen melalui "budaya Islam" sendiri. Padahal, umat Islam tak sebodoh itu.

    Umat Islam justru akan tertawa, mencibir lantunan sang penginjil ini. Apalagi, syair yang didendangkan menyalahi kaidah bahasa Arab.

    Kata "al-qudrotu" dan "al-hayatu" yang seharusnya ditulis dengan huruf ta' marbuthph (tertutup) justru ditulis dengan huruf ta' maftuhah (terbuka). Kata "almasiihu" ditulis tanpa memakain huruf "ya". Kata "ath-thoriiqu" yang seharusnya "ma'rifah" (definite) tulis "nakirah" (indefinite). Kata "al-hayaatu" yang sudah jelas ma'rifat, dijadikan mudhof (disandarkan) pada dhomir (kata ganti) "hu" (dia). Ini membuktikan, pengakuan sang penginjil sebagai mantan ustadz layak diragukan kebenarannya.

    Syair "Lianna fiigi a'laanallohu" yang diterjemahkan menjadi "di dalam dia nyata kebenaran-Nya", sama sekali tak jelas juntrungannya. Kata "a'laan" berasal dari "a'lana-yu'linu" yang berarti "mengumumkan". Kata "i'laan" berarti "pengumuman".

    Oleh bahasa Indonesia diserap menjadi "iklan". Maka "lianna fiihi a'laanallohu" tak bisa diterjemahkan dengan tepat karena akan menyalahi kaidah bahasa Arab. Dalam injil berbahasa Arab, syair ini terdapat dalam tulisan Paulus yang memusuhi Yesus. "Lianna fiihi mu'lanun birrullohi" (sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah). (Kitab Roma 1:17).

    Syair yang paling fatal kerusakannya adalah "Ana huwa thoriiqu wal-haqqu wal-habaatuhu. Laa baaji'uu ahadun ilal aba illaa bib". Jika kalimat ini ditanyakan pada orang Arab, mereka tidak ada yang paham. Kalimat ini diambil dari Injil Yohanes 14:6 yang sangat populer digereja. Dalam ayat ini, teks Arab yang benar adalah "ana huwa ath-thoriiqu wal-haqqu wal-hayaatu. Laisa ahadun ya'tii ilal aabi illaa bii".

    Jika para penginjil tak mau disebut "Ente Bahlul", sebaiknya qasidah ini ditarik dari peredaran.

    Lirik dan syair qasidah Kristen karya penginjil asal Lamongan, Jawa Timur yang menyebut dirinya Yosua, memang kental bahasa arabnya. Tujuannya jelas, agar umat Islam bisa disusupi ajaran Kristen, Tapi, umat Islam bukan kaum terbelakang yang mudah diperdaya.

    Meski dialihbahasakan ke seribu bahasa, jika isinya tentang trinitas dan yesus kristus, umat sudah paham. Apalagi jika bahasa Arab yang digunakan salah susunan tata bahasanya, sang penginjil akan tertipu oleh dirinya sendiri.

    Misalnya syair lagu Isa Kalimatulloh. "Fii-bad'i kana al-kalimah. Wa kana al-kalimatu kana 'indillaahi. Huwa fii-bad'i kana 'indillaahi. Bihi ma kana kullu syai'in wa bighoirihi makana syai'in mimma kana". Sang penginjil, seharusnya menulis "indalloohi" bukan "indillaahi", Kata "al-kalimatu" tidak memakai huruf alif. Kata "wal-kalimatu" ditulis "wa kana al-kalimatu". Padahal, syair ini mengutip Injil Yohanes 1:1-3.

    Lagu berjudul "Nahmaduka Ya Allah", lirik dan syairnya mirip dengan qasidah umat Islam. Secara umum, syairnya tak bermasalah secara akidah Islam.

    Berikut kutipannya : "Nahmaduka ya Allah, nahmaduka ya Allah, Ana nad'u la asmika, ana nad'u la asmika. Allahy ma'rufun lil-mustaqim sholihun lianqiyail qulub".

    Terjemahannya, "Kami syukur ya Allah. Aku serukan nama-Mu. Allah itu sungguh baik bagi yang bersih hatinya". Tapi, secara kaidah bahasa Arab, banyak kesalahannya. Misalnya, kata "ma'ruuf", "syukur" dan "al-quluub" ditulis tanpa huruf "wawu mati". Persoalannya, syair ini menjadi alat propaganda Yahudi dengan menyisipkan kalimat "Allahu 'adhimun fi Isra'il" ( Allah itu terkenal di Israel).

    Pesan rasialis lain, misalnya pernyataan tidak ada Allah kecuali di Israel. "Sekaang aku tahu, bahwa diseluruh bumi tidak ada Allah kecuali di Israel. Karena itu, terimalah kiranya suatu pemberian dari hambamu ini" (II Raja-raja 5:15).

    Demikian juga dengan lagu berjudul Allahu Akbar. Lirik dan nadanya serupa dengan qasidah umat Islam. Syairnya juga cukup bagus. Berikut kutipannya, "Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar, pujilah asma Allah. La ilaha illallah, Tinggikan nama Tuhan. Allahu Akbar fil jannah, tiada yang seperti Dia. Allahu Akbar fiddunya, Allahu Akbar fil-jannah, Allahu ya Allah, pujilah asma Allah".

    Tapi, yang serupa belum tentu sama. Karena, dalam syair Allahu Akbar ini diselipkan kalimat "Ya Robbi Al-Masih". Kalimat inilah yang melanggar akidah Islam. Dalam Islam, Allah SWT memiliki sifat Maha Besar (al-kabir). "Sesungguhnya Allah, Dialah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar." (QS al-Hajj:62, baca juga ar-Ra'd:9 dan al-Mukmin:12).

    Karena tak ada sesuatupun yang serupa dengan Allah (QS asy-Syura:11, al-Ikhlas:4), satu-satunya yang layak dan berhak disebut Allahu Akbar (Allah Maha Besar) hanya Allah SWT. Menyebut makhluk ciptaan Allah sebagai Allahu Akbar adalah pelanggaran akidah, disebut musyrik (mempersekutukan Allah).

    Keesaan Tuhan dalam Islam juga diakui teolog kristen. Pendeta Dr. Harun Hadiwijono mengakui dalam bukunya Inilah Sahadatku. "Bagi agama Islam dosa yang tidak dapat diampuni adalah syirik, yaitu mempersekutukan Allah. Dalam al-Qur;an surah 4:48 disebutkan, Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, sekalipun Tuhan berkenan mengampuni dosa selain daripada dosa syikrik itu. Agama Islam memang menekankan sekali keesaan Allah," (hlm 195).

    Jadi, syair qasidah yang menyebut Isa Almasih sebagai Allahu Akbar, adalah dosa besar yang memusyrikan Allah. Karena Nabi Isa menolak penuhanan terhadap dirinya (QS al-Maaidah:116-118).

    Kemusyrikan itu bermula dari doktrin Trinitas (tritunggal) yang diyakini umat Nasrani. Brosur yang dikeluarkan Sekolah Tinggi Teolog Joseph KAM menyebutkan, Allah Tritunggal terdiri dari tiga pribadi, yaitu Allah Bapak, Allah Anak (Yesus) dan Allah Roh Kudus.

    "Allah memiliki tiga pribadi yang setara, sehakikat, sekehendak, satu zat, tidak bercampur, tidak berpisah dan tidak berasal mula. Allah bukan hanya Bapak saja, tapi juga Yesus dan Roh Kudus. Bapak bukan Allah dalam keseluruhannya, tapi juga Yesus dan Roh Kudus. Yesus Kristus adalah seratus persen Allah dan seratus persen manusia, namun Allah bukan hanya Yesus Kristus saja, tetapi juga Bapak dan Roh Kudus."

    Doktrin diatas adalah slogan yang tidak bisa dibuktikan secara ilmiah, karena tak sesuai dengan fakta yang ada. Bibel sendiri menunjukkan bahwa Yang Maha Besar hanya Tuhan, "Sebab Tuhan Maha Besar sangat terpuji, Ia lebih dahsyat daripada segala Allah," (Mazmur 96:4).

    "Tuhan itu Maha Besar dan Tuhan kita itu melebihi segala Allah," (Mazmur 135:5). Sifat Tuhan kekal tak berubah selamanya (Maleakhi 3:6) dan tidak ada yang menyamai-Nya karena tak ada ilah sebelum dan sesudah Dia (Yesaya 43:10). Bibel juga menantang manusia yang ebrbuat musyrik pada-Nya, dalam firman-Nya, "Jadi dengan siapa hendak kamu samakan Allah dan apa yang dapat kamu anggap serupa dengan Dia?" (Yesaya 40:18).

    Faktanya, tak ada yang berani menjawab tantangan ini, termasuk Yesus Kristus yang diklaim sebagai "Allahu Akbar" oleh para penginjil. Padahal, Yesus sendiri tak berani menyebut dirinya Allahu Akbar. "Bapaku, yang memberikan mereka kepadaku, lebih besar daripada siapapun, dan seorang pun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa," (Yohanes 10:29).

    Kini, setelah dua puluh abad sepeninggal Yesus dari dunia, muncul penginjil yang lancang memberi gelar "Allahu Akbar" pada Yesus. Gelar ini jelas salah alamat. Selain salah secara teologis, syair qasidah yang diciptakannya juga salah secara bahasa. (FAKTA/sabili)

      Waktu sekarang Mon 27 Mar 2017, 15:25