Alasan USA mengincar IRAN

    Share
    avatar
    Ali Sufyan
    Moderator
    Moderator

    Posting : 65
    Poin : 210
    Age : 34
    Lokasi : Ankara, Turkey

    Alasan USA mengincar IRAN

    Post by Ali Sufyan on Sat 05 Dec 2009, 09:39

    Selepas invansi Amerika Serikat (AS) ke Irak pada Maret 2003, nafsu AS ternyata masih tak bisa dibendung untuk mencoba “invansi” Iran lewat isu yang sama: nuklir. Iran dikhawatirkan akan memproduksi senjata pemusnah massal (Weapon Mass Destruction / WMD) melalui senjata nuklir. Padahal Iran telah mengklaim tenaga nuklir hanya digunakan sebagai bahan pembangkit listrik; demi perdamaian. Padahal, pada tahun 1974, Iran di bawah Shah Reza Pahlevi, AS men-support pembangunan reaktor nuklir Bushehr. Kali ini, isu ancaman senjata nuklir Iran kembali digunakan AS. Sungguh kampungan!

    Dulu, isu senjata nuklir pernah berhasil digunakan oleh AS ke Irak. AS menginvansi Irak, dunia pun seakan tak bisa berbuat banyak; termasuk Indonesia. Di AS sendiri, isu senjata nuklir dianggap sebagai “kebohongan” terhadap publik AS. Sebuah media massa AS, The Washington Post sempat mempertanyakan alasan serangan AS ke Irak. Sandi Invasi AS ke Irak bernama Operation Iraqi Freedom (OIF) malah diplesetkan publik AS menjadi Operation Iraqi Liberation (OIL !)


    Sumber: The Washington Post


    Kali ini, Resolusi DK PBB diputuskan. Aneh tapi nyata, Indonesia mendukung resolusi dengan alasan mendukung penciptaan kawasan bebas senjata nuklir di Timur Tengah. Secara tak sadar, itu sebuah resolusi yang secara tidak langsung mendukung AS. AS dan sekutunya sangat berkepentingan atas wilayah Timur Tengah, demi kepentingan energy security-nya. Kepentingan energy security tersebut demi terjaganya dominasi AS di dunia. Jika begitu, apa yang diperoleh Indonesia atas keluarnya Resolusi tersebut? Tidak ada? Bisa jadi, Indonesia ditekan AS dikarenakan lemahnya kepemimpinan nasional. Sungguh memalukan.

    GEOSTRATEGI IRAN DI ASIA TENGAH – ASIA SELATAN
    Dalam geostrategi energi, posisi geografi Iran sangat menguntungkan. Di sebelah utara Iran, negara ini berdekatan dengan Azerbaijan, Rusia, Turkmenistan, Uzbekistan, dan Kazakhtan. Wilayah-wilayah ini, termasuk Iran, memiliki akses ke Laut Caspia. Dalam intelijen energi, semua orang tahu bahwa wilayah Laut Caspia mengandung potensi kekayaan minyak dan gas.



    Sumber: OPEC, Oil Outlook to 2025

    Khusus Iran, pada tahun 2006, perusahaan minyak Rusia Lukoil dan perusahaan minyak negara Kazakh Kasmunaigas menawarkan kerjasama dengan Iranian Northern Drilling Company (NDC) untuk pengembangan kilang minyak di Laut Caspia. Pada tahun yang sama pula, NDC melakukan kerja sama dengan China’s Oilfield Services Ltd untuk pengeboran kedalaman 2000 kaki. Ini membuktikan wilayah yang mempunyai akses dengan laut Caspia sangat strategis untuk energi.

    Jalur Pipa Minyak Wilayah Laut Caspia



    Sumber: EIA dan CIA


    Akibat dari akses ke wilayah Laut Caspia, Iran secara otomatis menjadi salah satu negara vital yang dilewati oleh pipa-pipa minyak dan gas menuju Asia, seperti ke India, Pakistan, dan China. India, Pakistan, dan China secara kebetulan berada di timur Iran. Negara-negara penghasil minyak dan gas dari wilayah Laut Caspia pada umumnya mengekspor kebutuhan energi Asia melalui 2 negara, yakni Iran dan Afghanistan.

    Infrastruktur Ekspor Gas di Asia Tengah dan Kaukasus


    Sejak tersingkirnya Taliban dari pemerintahan Afghanistan akibat invansi AS dan sekutunya tahun 2001, jalur pipa Trans-Afghan pun lancar dikembangkan. Sejak saat itu, perusahaan energi asal AS leluasa membangun jalur pipa Trans-Afghan. Salah satu perusahaan AS, Unocal, saat itu berkepentingan atas pembangunan jalur pipa tersebut. Malah ada dugaan terdapat konspirasi perusahaan-perusahaan minyak besar (big oil company) terkait serangan AS ke Afghanistan demi pembangunan jalur pipa tersebut.

    Sedangkan di jalur pipa yang melewati Iran, kepentingan perusahaan-perusahaan energi AS sulit untuk membangun pipa ataupun kilang-kilang minyak dan gas karena adanya Iran-Libyan Sanction Act (ILSA). Pada tahun 1996, AS mengeluarkan ILSA; sebuah peraturan hukum AS yang “menghukum” Iran dan Libya terkait “terorisme” ataupun nuklir. ILSA ternyata tak banyak berpengaruh di dunia.

    Akibatnya, perusahaan-perusahaan non-AS yang menikmati lowongnya pembangunan jalur pipa ataupun proyek energi lainnya di Iran. Ternyata ILSA tidak mempan untuk negara-negara lain (kasihan deh AS!). Pada tahun 1997, Iran dan Turkhmenistan membangun jalur pipa gas Korpezhe-Kurt Kui senilai 190 juta USD, sebuah jalur pipa pertama dari Asia Tengah yang mem-bypass jalur pipa Asia Tengah-Rusia.

    Infrastruktur Ekspor Gas di Asia Tengah dan Kaukasus


    Jalur Pipa Gas Iran-Indiap/size]


    Sementara itu, sobat kental AS, yakni India malah berencana bekerjasama dengan Iran untuk membangun jalur pipa melewati Pakistan, dan India, yang nantinya juga menuju China. Padahal China jelas-jelas “musuh politik” AS. Tak ayal, pada bulan Maret 2005, Condoleza Rice ketika mengadakan tur ke Asia sempat menyatakan tidak dapat menerima rencana tersebut.

    Itu semua jika dilihat dari sisi utara, barat, dan timur Iran. Bagaimana dengan geostrategi dari selatan Iran? Wilayah Iran di selatan yang sangat strategis adalah Selat Hormuz. Akses selat ini dimiliki oleh Iran dan Oman.

    [size=2]Selat Hormuz


    Selat Hormuz adalah selat yang dilalui oleh kapal-kapal tanker se-dunia. Rute kapal-kapal tanker yang melalui Selat Hormuz sangat dekat dengan daratan Iran. Jarak antar daratan Oman dan Iran yang dipisah oleh Selat Hormuz hanya berkisar 34 mil. Sementara jarak aman (buffer zone) hanyalah 2 mil yang bisa dilalui oleh kapal-kapal tersebut untuk keluar-masuk.

    Jalur Timur Kapal Tanker Dunia



    Aliran minyak yang melewati Selat Hormuz untuk dunia tercatat 40 persen untuk konsumsi perdagangan minyak dunia. Sekitar 17 MMBD minyak melewati selat ini untuk dikirim melalui jalur timur (terutama ke Jepang, China, dan India) dan jalur barat (melalui Terusan Suez).

    Tak terbayang, apa yang akan terjadi pada dunia jika Selat Hormuz terganggu. Siapa yang akan bakal SANGAT terganggu? Tentu saja Amerika Serikat! Konsumsi minyak AS adalah tertinggi di dunia; dan berakibat tergantung juga pada impor dari minyak Timur Tengah. Jadi siapa yang SANGAT berkepentingan atas Selat Hormuz?

    KEKAYAAN SUMBER ENERGI IRAN
    Selain memiliki posisi wilayah yang strategis (geostrategi) di Timur Tengah, Iran adalah negara yang kaya akan sumber energi. Iran adalah salah satu negara anggota OPEC yang mempunyai potensi minyak dan gas luar biasa. Menurut Oil and Gas Journal, 1 Januari 2006, Iran memiliki cadangan minyak terbukti sebesar 132,5 miliar barrel. Pada tahun 2005, produksi minyak Iran saja tercatat 3,94 juta bpd; terhitung 5 persen dari produksi minyak mentah dunia.

    Produksi Minyak Negara-negara OPEC


    Iran mengekspor minyak 2,5 juta bpd. Minyak Iran paling besar diekspor ke Jepang dan China. Pada tahun 2005, Jepang mengimpor minyak Iran sebesar 570 ribu bpd. Sedangkan China, 284 ribu bpd

    Tujuan Ekspor Minyak Iran

    Sumber: EIA


    Tak heran, kekayaan Iran paling besar salah satunya berasal dari ekspor minyak. Selisih produksi dan konsumsi minyak Iran yang menjadi nilai ekspor.

    Produksi dan Konsumsi Total Iran

    Sumber: EIA


    Itu baru hanya dari kajian produksi minyak. Bagaimana dengan gas alam? Menurut Oil and Gas Journal, (01/2006), Iran memiliki cadangan terbukti gas alam sebesar 970 triliun Tcf. Potensi ini membuat Iran menduduki posisi kedua setelah Rusia. Namun sekitar 62 persen kandungan gas alam Iran belum dikembangkan.

    Cadangan Terbukti dan Produksi Gas Alam Dunia


    Konsumen ekspor potensial atas gas alam Iran diantaranya Turki, Ukraina, Eropa, India, Pakistan, Armenia, Azerbaijan, Georgia, Taiwan, Korea Selatan, dan China. Ekspor gas alam Iran melalui dua jalur: distribusi kapal tanker dan pipa gas regional.

    WILAYAH STRATEGIS SUMBER ENERGI IRAN
    Lalu dimana lokasi sumber-sumber energi Iran tersebut? Wilayah strategis sumber energi Iran terbagi dua: wilayah yang kaya produksi minyak dan wilayah yang kaya produksi gas.Khusus minyak, wilayah strategis sumber energi Iran terletak di Iran bagian barat. Di kalangan intelijen energi, wilayah ini bernama Khuzestan. Wilayah yang mayoritas kaya akan kilang minyak (walau ada gas juga).

    Khuzestan, Iran bagian Barat

    Sumber: www.dailykos.com


    Wilayah Khuzestan, Iran bagian barat, memiliki sejarah panjang yang melibatkan kepentingan AS dan Inggris. AS dan Inggris tergiur atas kekayaan produksi minyak dari Khuzestan, yang diperkirakan mengandung minyak 100 miliar barrel.

    Pada tahun 1897, Inggris memprovokasi orang-orang Khuzestan agar memisahkan diri dari Persia (Iran). Saat itu, secara de facto, wilayah ini menjadi protektorat Inggris dan berganti nama Arabistan. Pada tahun 1907, pengaruh Inggris benar-benar merasuki wilayah barat di Persia ini. Pada tahun-tahun berikutnya, petualang Inggris menemukan minyak di wilayah ini.

    Minyak tersebut ditemukan di daerah Masjed Soleyman, masih di wilayah Khuzestan. Penemuan tersebut akhirnya menciptakan perusahaan minyak Anglo-Persian, yang kemudian bernama British Petroleum (BP). Pada tahun 1925, penguasa Persia saat itu Shah Reza mengerahkan pasukan untuk merebut kembali wilayah Arabistan. Arabistan pun kembali bernama Khuzestan. Tapi, pada saat Perang Dunia Kedua, Khuzestan kembali diduduki oleh pasukan Inggris.

    Mohammad Mossadegh


    Pasca Perang Dunia Kedua, pada tahun 1951, pemimpin nasionalis Mohammad Mossadegh sadar akan kekayaan minyak yang dikuasai oleh asing. Ia kemudian melakukan nasionalisasi industri minyak, dimana jantung industri minyak terletak di Khuzestan.

    Pada tahun 1953, intelijen AS, CIA menumbangkan Mohammad Mossadegh. Operasi CIA tersebut dipimpin oleh Kermit Roosevelt, keponakan F.D. Roosevelt; nama operasi: Operasi Ajax. CIA pun memasang Shah Reza Pahlevi sebagai pemimpin Iran. Sejak itu, Khuzestan dibuka untuk perusahaan minyak AS, Standard Oil, milik Rockefeller.

    Pada tahun 1954, mulai ada negoisasi pengelolaan minyak antara asing dan Iran. Pada tahun itu, National Iranian Oil Company mengadakan kerjasama dengan perusahaan asing dalam sebuah konsorsium. Minyak dan gas Iran pun akhirnya banyak mengalir ke AS; ke pelabuhan-pelabuhan San Fransisco, Houston, ataupun Los Angeles.

    Ketidakpuasan ternyata tersimpan di hati rakyat Iran. Pada tahun 1978, para pekerja minyak di Khuzestan melawan Shah. Mereka mendukung revolusi Iran. Revolusi ini diam-diam didukung oleh Inggris. Inggris tak rela aset minyaknya jatuh ke pihak lain. Ayatollah Khoimeini pun “dipasang” sebagai pemimpin Iran.

    Wilayah Khuzestan berdekatan dengan Irak. Saat melihat revolusi Iran adalah ancaman untuk perusahaan minyak Barat, Saddam Husein pun melakukan invansi ke Khuzestan pada tahun 1980. Aksi Saddam Husein itu didukung diam-diam oleh AS. Tapi, pada tahun 1982, pasukan Iran berhasil mengusir pasukan Irak keluar dari Khuzestan. Perang Iran-Iran saat itu tidak ada kaitannya perang antara kaum Sunni (Irak) dan Syiah (Iran). Kaum syiah Irak mendukung aksi Saddam Husein, seperti halnya kaum sunni Iran membela negaranya Iran. Alasan perang saat itu hanya satu: karena minyak dan diprovokasi AS-Inggris.

    Pasca Perang Irak-Iran, yang menarik, pada Oktober 2004, Iran melakukan perjanjian jangka panjang senilai 100 miliar USD dengan perusahaan energi asal China, Sinopec dan Oil and Natural Corporation / ONGC (India) untuk mengembangkan lapangan gas di Yadavaran, wilayah Khuzestan. China? Bisa jadi ini yang membuat AS geram.

    Itu sejarah panjang energi wilayah Khuzestan, Iran bagian Barat, yang kaya akan minyak. Lalu bagaimana dengan wilayah strategis Iran untuk gas alam? Menurut EIA, kandungan gas Iran mayoritas terdapat di tiga tempat, yakni Pars Selatan (280-500 Tcf kandungan cadangan gasnya dan 17 miliar barrel kandungan minyak), Pars Utara (50 Tcf), dan Kangan-Nar (23.7 Tcf). Tapi, yang menjadi sorotan dunia adalah Pars Selatan (South Pars).

    [
    b]Lokasi Pars Selatan[/b]


    Kilang Gas Pars Selatan dan Jalur Pipa ke Qatar


    Pengembangan kilang gas Pars Selatan merupakan proyek energi terbesar Iran. Proyek ini telah menarik investasi senilai 15 miliar USD. Jika pengembangan proyek Pars Selatan berhasil, Iran akan memperoleh hasil penjualan gas alam senilai 11 miliar USD dalam jangka waktu 30 tahun.

    Foto-foto Kilang Gas Pars Selatan dan Presiden Iran Mohammad Khatami


    Perusahaan energi yang terlibat dalam pengembangan proyek Pars Selatan ini diantaranya Gazprom (Rusia), Petronas (Malaysia), ENI, LG (Korea Selatan), dan Statoil (Norwegia). Hingga tulisan ini disusun, tidak ditemui perusahaan energi asal AS yang terlibat.

    PETRODOLLAR VS PETROEURO
    Dari paparan sebelumnya, terlihat bahwa bangsa Iran adalah bangsa yang belajar atas kekayaan alam (minyak dan gas) yang dimilikinya. Tak seperti bangsa Indonesia yang sungguh memalukan (Anda malu atau tidak ?). Kesadaran Iran atas potensi energi dan letak wilayah yang dimilikinya, membuat Iran mempunyai bargaining position yang kuat untuk mempengaruhi dunia; apalagi mengganggu dominasi AS.

    Kartun: Kenapa AS Akan Serang Iran


    uang Dollar Amerika sempat jatuh. George Soros, seorang pialang keturunan Yahudi, sempat berang dan menyalahkan negara-negara yang melakukan transaksi minyak tidak lagi berdasarkan mata uang Dollar Amerika. George Soros walaupun ia berseberangan politik dengan Bush (Soros sempat terlibat pemberian dana kampanye politik melawan Bush saat Pemilu), ia tetap peduli dengan dominasi keuangan / finansial Amerika di dunia.

    “Serangan” Iran terhadap AS mirip yang dilakukan Saddam Husein (Irak) pada tahun 2000. Saat itu, Irak terkena sanksi PBB, dan dikenai program Oil-for-Food dari PBB. Program PBB tersebut semacam barter minyak dengan pangan untuk Irak, dan dinilai berdasarkan mata uang Dollar Amerika. Saat itu, Saddam Husein memaksa untuk mengunakan mata uang Euro untuk nilai transaksinya. Tindakan Saddam Husein tentu saja meningkatkan nilai mata uang Euro di hadapan Dollar Amerika, tapi itu sebuah tindakan politik.

    Kenapa AS Serang Irak?


    Hal tersebut kembali dilakukan oleh Iran. Iran membentuk semacam perdagangan minyak tersendiri (Iranian oil Bourse) dengan menggunakan nilai mata uang Euro; kata Bourse merujuk ke perdagangan saham dan didapatkan dari bursa saham Perancis, Federation Internationle des Bourse de Valeurs.

    Iranian oil Bourse menjadi salah satu alternatif perdagangan minyak dunia, dan sekaligus menjadi tanda awal ancaman terhadap dominasi keuangan AS di dunia. Iranian oil Bourse dikhawatirkan mengganggu dominasi International Petroleum Exchange (IPE) di Inggris dan NYMEX di Amerika Serikat. Keduanya (IPE dan NYMEX), walaupun berbeda letak negara, dimiliki oleh perusahaan-perusahaan besar asal AS. Pada tahun 2001, IPE saja dibeli oleh sebuah konsorsium yang beranggotakan diantaranya: British Petroleum, Goldman Sachs, dan Morgan Stanley. Perusahaan yang tak jauh dari kelompok bisnis Zionis Yahudi.

    Menurut analis energi William Clark, tragedi buruk sempat dialami oleh Federal Reserve (AS) pada tahun 2005 atau 2006. Saat itu, nilai 1 barrel minyak senilai 50 Dollar Amerika. Sedangkan dalam Euro, berkisar 37-40 Euro untuk 1 barrel minyak. Nilai Euro naik 20-25 persen di hadapan Dollar Amerika.

    Tak heran, di AS sempat berkembang isu Pentagon sempat berencana mengerahkan pasukan dan menyerang Iran pada tahun 2005.

    ISU NUKLIR IRAN DAN ENERGI LISTRIK KAWASAN

    Jika membayangkan nuklir, semua orang akan membayangkan senjata nuklir seperti dijatuhkan AS ke atas kota Nagasaki dan Hiroshima dalam Perang Dunia Kedua di Asia Pasifik. Kehebatan dan ancaman senjata nuklir itu pula yang didengungkan AS ke persoalan Iran.

    Memang benar ADA laporan intelijen AS yang menyebutkan bahwa Iran telah memiliki kemampuan untuk memproduksi senjata nuklir, seiring dengan rencana Iran untuk membangun reaktor nuklir untuk pembangkit listrik. TAPI, apakah masyarakat dunia (termasuk Indonesia) tidak belajar dengan kasus Irak? AS menyerang Irak dengan dalih bahwa Irak memiliki senjata pemusnah massal, dalih itu berdasarkan laporan intelijen semata. MANA sekarang buktinya? (silahkan lihat lagi halaman 1 di artikel ini) Masyarakat AS sebagian besar telah sadar atas kebohongan publik yang dibuat oleh pemerintahannya. Pajak yang didapatkan dari masyarakat AS dibuang percuma demi Irak. Sementara itu, perusahaan alat militer dan perusahaan minyak besar (Big Oil Company) di AS ternyata yang memperoleh keuntungan. Di sisi lain, sebagian keluarga para tentara AS mulai tidak mau anggota keluarganya bertugas sia-sia dan tak jelas tujuannya di medan konflik Irak. SEKALI LAGI, isu senjata nuklir Irak ataupun Iran itu hanya isu kampungan yang digembar-gemborkan AS.

    List of Locations Relevant to the Implementation of IAEA Safeguards As of November 2003
    http://www.globalsecurity.org/wmd/world/iran/nuke-fac.htm


    Sumber: www.globalsecurity.org


    Lalu, jika memang Iran memiliki kemampuan membuat senjata nuklir gara-gara potensi dari pengayaan uranium, darimana Iran mendapatkan teknologi nuklir itu sendiri? Mau tahu?! Kata Bung Karno: Jasmerah!

    Yang pertama harus diingat adalah Iran sebenarnya telah berusaha membangun reaktor nuklir sejak tahun 1974, ketika Iran di bawah kepemimpinan Shah Reza Pahlevi. Anda tahu khan negara mana di balik sang Shah tersebut?.

    Saat itu, Shah berencana membangun reaktor nuklir untuk pembangkit listrik dengan bantuan Jerman, Perancis, dan AS. Ya tentunya semua dengan restu Washington. Kemudian Shah memberikan kontrak pembangunan ke perusahaan Jerman, Siemens, untuk membangun 2 reaktor nuklir berkekuatan 1200 MW di wilayah Bushehr, Iran Kawasan Bushehr adalah salah satu kawasan yang diributkan oleh AS lewat IAEA saat ini.

    Saat itu (tahun 1974), AS mendukung Iran untuk mengembangkan sumber energi alternatif; tidak berbasiskan minyak dan gas. Padahal saat itu, pembangkit listrik nuklir belum sangat dibutuhkan oleh Iran. Saat itu, jumlah penduduk Iran kurang dari 70 juta orang, produksi minyak sekitar 5,8 juta bpd, konsumsi energi domestik Iran saat itu sekitar seperempat dari saat ini. Kenapa saat itu pembangkit listrik nuklir Iran tidak dipersoalkan?!

    Tapi oleh AS, sebuah penelitian pun digelar Stanford Research Institute. Penelitian lembaga tersebut menyebutkan bahwa pada tahun 1990, Iran membutuhkan kapasitas listrik sebesar 20.000 MW. Lalu, generasi pertama teknisi nuklir Iran dikirim dan dilatih ke Massachusetts Intitute of Technology.

    Dalam dua Memorandum Keputusan Keamanan Nasional AS (National Security Decision Memoranda) tertanggal 22 April 1975 dan 20 April 1976, Presiden AS saat itu Gerald Ford menyetujui penjualan fasilitas pemrosesan dan pengayaan uranium ke Iran. Sebaliknya, Iran membeli 8 reaktor nuklir. Kerjasama Iran dan AS itu senilai 15 miliar Dollar Amerika. Amerika Serikat setuju membangun 8 pembangkit listrik tenaga nuklir yang total kapasitasnya 8000 MW. Kebijakan Gedung Putih saat itu diumumkan resmi oleh juru bicara Sydney Sober pada bulan Oktober 1977, dalam sebuah simposium, “The US and Iran: An Increasing Partnership.” Akhirnya, draft final US-Iran Nuclear Energy Agreement ditandatangani bersama Iran dan AS pada bulan Juli 1978. Penandatanganan tersebut dilakukan beberapa bulan sebelum adanya gejolak Revolusi Islam Iran. AS melongo……

    Kemudian, pada 9 Februari 2003, Presiden Iran Mohammad Khatami mengumumkan program pengayaan uranium untuk bahan baku pembangkit listrik tenaga nuklir. Sejak itu, tenaga ahli dari IAEA (International Atomic Energy Agency) berdatangan ke Iran. Pihak Gedung Putih (AS) berkeyakinan bahwa pengayaan uranium Iran itu untuk pembuatan senjata nuklir. Sungguh lucu!

    Kini, teknologi nuklir Iran untuk pembangkit listrik di-support oleh Rusia. Rusia dan Iran menjalin kerja sama strategis. Nilai kontraknya diperkirakan senilai 25 Miliar Dollar Amerika. Rusia membutuhkan Iran, demikian sebaliknya. Rusia membutuhkan Iran sebagai partner strategis untuk mengimbangi upaya dominasi AS di kawasan Eurasia (Eropa-Asia). Sementara Iran membutuhkan teknologi Rusia untuk agar nanti Iran menjadi pusat geopolitik-ekonomi di Timur Tengah. Dalam intelijen internasional, kawasan Eurasia memang merupakan target dominasi AS. Kegelisahan AS dan Sekutunya pun menjadi-jadi. Selain teknologi nuklir, Rusia ternyata juga mentransfer teknologi militer dan ruang angkasa ke Iran.

    Kini, Rusia seperti “mengkhianati” Iran. Rusia lewat IAEA, mendukung resolusi PBB. Iran menilai sikap Rusia ambigu. Padahal Rusia sebenarnya mengkhawatirkan serangan AS ke Iran benar-benar akan terjadi. Sikap AS yang kelewatan sebenarnya tak seharusnya terjadi; karena nafsu. Yang patut ditiru adalah sikap Perancis, Jerman, dan Inggris yang menjanjikan pengiriman bantuan dan kerja sama teknis kepada Iran untuk pembangunan reaktor nuklir sipil (listrik), demi transparansi nuklir. Sikap negara-negara tersebut bijaksana ketimbang kekhawatiran yang membabi buta atas sikap Iran.

    Lepas dari fakta tersebut, sebenarnya ada apa di balik sikap Iran yang “ngotot” untuk program nuklir sipilnya? Berdasarkan analisis, terdapat dua hal yang mendasari, yakni: antisipasi konsumsi energi listrik dalam negeri Iran yang makin tinggi, dan geopolitik kebutuhan energi listrik kawasan.

    Antisipasi konsumsi energi listrik Iran. Menurut EIA, kebutuhan listrik domestik Iran makin tinggi, dan dibutuhkan investasi miliaran Dollar Amerika. Pada tahun 2004, kapasitas terpasang di Iran sebesar 34,3 GW. Produksi listrik sebesar 155,7 miliar KWH. Konsumsi listriknya 145,1 miliar KWH. Pada tahun 2004, kapasitas terpasang Iran naik menjadi sebesar 36 GW. Pertumbuhan konsumsi listriknya mencapai 7-9 persen. Pemerintahan Iran mau tak mau harus mengejar keamanan pasokan listrik domestik apalagi jumlah penduduk Iran diperkirakan mencapai 100 juta orang pada tahun 2025.

    Kapasitas Pembangkit Listrik Iran Berdasar Jenisnya

    Sumber: www.globalsecurity.org


    Dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi, Iran membutuhkan daya listrik 70.000 MW pada tahun 2021. Jika daya listrik tersebut dihasilkan dari minyak (BBM), dibutuhkan 112-140 juta barrel per tahun. Ini sebuah dilema untuk Iran. Pembangkit listrik besar Iran kebanyakan berbahan baku BBM. Padahal pendapatan Iran 80 persen berasal dari ekspor minyak, dan 45 persennya digunakan untuk APBN Iran. Selain itu, hasil produksi minyak Iran belum ada kemajuan pesat akibat konsumsi domestik yang naik 280 persen sejak tahun 1978, dan belum pula dibutuhkan biaya 40 miliar USD untuk perawatan kilang-kilang minyak Iran dalam 15 tahun. Jika situasi terus seperti itu, Iran diprediksi menjadi net oil importer pada tahun 2010.

    Daftar Pembangkit Listrik Iran


    Bagaimana dengan pembangkit listrik berbahan baku gas? Jika Iran mengembangkan dan meningkatkan pembangunan pembangkit listrik berbahan baku gas, sangat percuma. Menurut Massachusetts Intitute of Technology (AS) sendiri, biaya produksi listrik dari gas berbanding sama dengan biaya produksi listrik dari reaktor nuklir. Selain itu, dilema Iran, Eropa, dan Asia yang lain adalah gas Iran termasuk yang SANGAT dibutuhkan untuk memasok kebutuhan Eropa dan Asia.

    Penggunaan Nuklir Untuk Listrik Di Dunia


    Sungguh tak masuk akal jika Iran harus mengikuti kemauan AS untuk menghentikan pengayaan uranium demi listrik Iran. Iran memang kaya akan minyak dan gas, tapi tetap membutuhkan sumber energi alternatif untuk listrik. Inggris, Canada, hingga Rusia adalah eksportir migas, tapi negara-negara ini tetap menggunakan pembangkit listrik tenaga nuklir.

    Di dunia saat ini, 19 persen daya listrik dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga nuklir. Penggunaan reaktor nuklir di dunia sebagai penghasil daya listrik diperkirakan akan meningkat terus.

    Yang jelas, Iran telah merencanakan sumber pasokan energi listrik pada tahun 2021 berasal dari 10 persen tenaga nuklir, 20 persen dari hydro (tenaga air), 60 persen dari gas, dan sisanya dari yang lain.

    Geopolitik kebutuhan energi listrik kawasan. Seperti diketahui bersama, letak Iran yang sangat strategis membuat posisi Iran dekat dengan negara-negara Asia Selatan, Asia Tengah, ataupun Laut Caspia. Beberapa negara di kawasan tersebut kekurangan pasokan listrik untuk dalam negerinya. Sebut saja seperti negara-negara seperti Syria, Georgia, Azerbaijan, Afghanistan, Irak, Pakistan, hingga India.

    Tapi, negara-negara yang minim pasokan daya listriknya mau tak mau harus bersyukur, karena jaringan interkoneksi telah dibangun dan sedang dikembangkan lagi menghubungkan antar-negara di kawasan Asia Tengah dan Asia Selatan Kabarnya jaringan interkoneksi ini menyambung hingga ke daratan Eropa; dari Iran melalui Armenia.

    Jaringan Transmisi Listrik Utara Iran


    Afghanistan’s Cross-Border Electricity Interconnections

    Source: www.pakistan.gov.pk


    Sumber: http://meaindia.nic.in

    Iran yang kaya akan minyak dan gas melihat peluang bisnis energi listrik kawasan. Tercatat, sejak tahun 1992, Iran mulai menjual daya listriknya ke negara-negara tetangga.


    Sumber: http://amar.tavanir.org.ir


    Ambisi Iran untuk mempengaruhi negara-negara kawasan lewat penjualan listrik, sepertinya seimbang dengan rencana Iran yang akan membangun reaktor nuklir untuk pembangkit listrik, walaupun juga untuk kebutuhan domestik Iran juga. Iran masih berencana memperluas pasar penjualan daya listriknya ke negara-negara tetangga.

    Selain mencari pasar penjualan, Iran bersama Rusia, dan China termasuk concern berinvestasi pembangunan pembangkit listrik di Asia Tengah. Selain sebagai perluasan pengaruh geopolitik, juga untuk memasok kebutuhan energinya sendiri (seperti ke China). Tiga negara ini mendorong negara Asia Tengah untuk menjual ke luar negara bersangkutan. Tiga negara ini terlibat pendanaan pembangunan di negara-negara seperti Tajikistan dan Kazakhstan. Tercatat, tidak ada perusahaan asal AS satu pun yang terlibat di pengembangan pembangkit listrik di Asia Tengah.

    Gerakan bisnis energi listrik Iran, Rusia, dan China bisa jadi membuat gerah AS. Secara geopolitik energi, gerakan tiga serangkai (Iran, Rusia, dan China) secara tidak langsung akan membuat negara-negara kawasan Asia Tengah ataupun Asia Selatan akan tergantung pada tiga negara tersebut, dan mengurangi pengaruh dominasi AS.

    GEOSTRATEGI IRAN DI ASIA TENGAH – ASIA SELATAN



    Amerika Serikat adalah negara yang seperti dua mata uang. Kata teman saya dengan bahasa Inggris sok fasih, “You can find good and evil in the USA.” Negara ini termasuk negara yang beradab, pintar, dan sekaligus (maaf) bangsat.

    Melihat kondisi geostrategi dan geopolitik energi yang dimiliki Iran (seperti yang dipaparkan di halaman sebelumnya), sangat wajar jika Iran menjadi incaran AS. Intinya, AS mengincar Iran karena:


    1. Tidak rela dominasi AS di Timur Tengah terganggu disebabkan
      Iran yang kaya akan sumber alam yang sedang melakukan ekspansi
      geopolitik-ekonomi di kawasan Eurasia bersama Rusia dan China (bisnis
      listrik). Pakistan dan India udah jadi sohib AS; AS gak mau kehilangan.
      Padahal India dan Pakistan dipakai AS sebagai mitra strategis
      mengimbangi gerakan geopolitik China.

    2. Jengkel karena nilai mata uangnya terganggu, karena Iran telah
      meluncurkan pusat perdagangan minyak alternatif dengan menggunakan mata
      uang Euro menyaingi IPE dan NYMEX. AS menilai sebagai tanda
      awal.ancaman dominasi mata uang Dollar Amerika di dunia.
      ya… karena Iran kaya minyak dan gas. Kebijakan energi AS adalah
      mengamankan pasokan migas dalam negerinya (energy security). Sementara
      itu, AS sangat tergantung pada impor minyak dari Timur Tengah;
      dikarenakan cadangan dan produksi minyak mentah dunia mayoritas berasal
      dari Timur Tengah!

    3. ya…pokoknya karena demi sumber energi!(sama dong ama nomor 3). AS
      butuh menguasai sumber energi demi menjaga dominasinya di dunia. Agar
      industrinya tetap jalan karena listriknya masih berbahan baku BBM. Agar
      pesawat dan kapal tempurnya tetap bisa sliwar-sliwer menginvansi negara
      lain. Agar mobil-mobil masayarakat AS tetap jalan (coba jika pakai
      keledai?!).

    4. AS tidak mau disalahkan!<LI>Pokoknya ya itu tadi semua!!!!!




    Cek Galerynya di : http://swaramuslim.com/galery/laknatullah/

      Waktu sekarang Fri 21 Jul 2017, 05:44