Budaya Berjilbab dalam Kurungan Neo-Liberalisme

    Share
    avatar
    RAHLA
    Administrator
    Administrator

    Posting : 17
    Poin : 34
    Age : 33

    Budaya Berjilbab dalam Kurungan Neo-Liberalisme

    Post by RAHLA on Tue 01 Dec 2009, 09:37

    Tiupan angin neo-liberalisme berhembus sangat kencang seiring dengan gelombang globalisasi yang melanda dunia saat ini. Neoliberalisme juga sungguh menakutkan. Paham ini terus bermetamorfosis dalam berbagai bentuk karena manusia ingin merasakan kebebasan dalam kehidupan mereka.

    Akibat dari menguatnya paham neo-liberal tersebut, muncullah gerakan- gerakan pembebasan yang mengatas namakan demokrasi, hak asasi manusia (HAM), emansipasi kaum perempuan, dan sebagainya. Tapi, dalam perkembangannya, jilbab gaul ini mengundang pro dan kontra karena jilbab semacam ini memperkenalkan bentuk pakaian yang kurang lazim dipakai seorang Muslimah, yaitu jilbab yang dililitkan ke leher, selanjutnya dipadukan dengan blus ketat, celana jins ketat sehingga diharapkan menampilkan lekuk-lekuk tubuh yang indah.Imam Raghib dalam al-Mufradat fii Gharib al-Qur‘an mengartikan jilbab sebagai pakaian longgar yang terdiri dari baju panjang dan kerudung yang menutupi badan, kecuali wajah dan telapak tangan.

    Celakanya fenomena jilbab gaul ini juga melanda lembaga-lembaga perguruan tinggi agama Islam, seperti yang terjadi di Universitas Islam Negeri (UIN), terutama pascakonversinya dari IAIN ke UIN. Fenomena jilbab gaul di UIN, contohnya, juga menguatkan dugaan sebagian orang bahwa neoliberalisme juga sudah menggurita di perguruan-perguruan
    tinggi agama Islam.

    Akibatnya, banyak orang di luar UIN memandang negatif proses pendidikan yang dikembangkan di UIN, yang dinilai kebarat-baratan, di mana nilai dan norma-norma keislaman harusnya bisa ditegakkan dan bisa dikontrol di perguruan tinggi agama Islam negeri. Sebagian yang lain memandang ada penyesatan di UIN.

    Pandangan ini bisa saja benar dan bisa juga sangat salah, tergantung dari mana kita memandangnya. UIN sebagaimana umumnya lembaga pendidikan Islam adalah jenis pendidikan yang pendirian dan penyelenggaraannya didorong oleh hasrat dan semangat cita-cita untuk mengejawantahkan nilai-nilai Islam, baik yang tecermin dalam nama lembaganya maupun dalam kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan.Di samping itu, UIN sebagaimana lembaga pendidikan Islam yang lain adalah jenis pendidikan yang memberikan perhatian dan sekaligus menjadikan ajaran Islam sebagai pengetahuan atas program studi yang diselenggarakan.

    Dengan begitu, mengingat posisinya sebagai lembaga yang memikul tanggung jawab syiar keislaman, sudah semestinya Islam ditempatkan sebagai sumber nilai oleh orang-orang yang berada di dalam institusi tersebut. Tapi, sebagaimana yang sudah saya sampaikan, UIN maupun lembaga-lembaga pendidikan Islam yang lain, hanyalah korban dari paham neoliberal yang sudah sangat menggurita di perguruan-perguruan tinggi di negeri ini. Bisa jadi yang punah di UIN pada masa tersebut adalah bidang-bidang studi keagamaan yang tidak lagi diminati oleh orang-orang Islam sendiri, sementara orang-orang akan berbondong-bondong memilih bidang studi non-keagamaan yang lebih menjanjikan peluang kerja. Kalau demikian, masa depan jilbab syar’i di UIN makin lama akan makin surut, sementara jilbab gaul makin diminati oleh orang-orang di lingkungan UIN seiring sejalan dengan mati atau punahnya program-program studi di UIN nanti. Jika sudah terjadi seperti itu, sungguh sangat memprihatinkan nasib pendidikan agama Islam di negeri ini di masa depan yang tak lagi mampu membendung pengaruh buruk dari paham neoliberal.

    Jilbab gaul hanyalah contoh pada hari ini, di samping maraknya pemikiran liberal oleh alih-alih dan cendekiawan Islam di negeri ini.

    Gimana menurut pandangan antum semua?Senang


    Sign _______________________
    Seorang Muslimah Sejati :
    Bedaknya air wudhu
    Celak matanya ghodul bashar
    Perona matanya bersyukur hati yang nampak dalam binar mata
    Perona pipinya rasa malu
    Lipstiknya Kejujuran & untaian kata penuh hikmah
    Pelembab bibirnya adalah dzikir dan melantunkan ayat-ayat Quran
    avatar
    bilal
    Sipil
    Sipil

    Posting : 30
    Poin : 76

    Re: Budaya Berjilbab dalam Kurungan Neo-Liberalisme

    Post by bilal on Mon 14 Dec 2009, 14:50

    Mau berbuat baik itu memang nggak mudah, sobat. Pasti ada aja suara-suara miring ketika kamu pertama kali berjilbab. Ada yang nganggep kamu sok alim, nggak modern, primitif, iseng manggil dengan gelar Bu Haji , atau bahkan yang parah adalah mengucilkan kamu dari pergaulan. Terus gimana dong?

    Kalo persoalannya mereka yang reseh, berarti masih ada celah untuk menasihati, maka jangan ragu untuk ngasih nasihat kepada mereka. Katakan bahwa dengan berjilbab, akan memperjelas posisi seorang wanita. Kamu bisa jelasin bahwa dengan berjilbab, seorang cewek tuh nggak hanya dinilai dari fisiknya semata (emang pelajaran olahraga pake acara penilaian fisik?), tapi cewek tuh juga punya kemampuan lain yang lebih layak dinilai. Kemampuan otaknya, prestasi belajarnya, keahlian di bidang yang ditekuninya, dan keterampilan dalam bidang yang lain juga yang nggak melulu cuma pamer fisik. Selain tentunya memiliki akhlak yang baik juga dong. Oya, kamu bisa membe-rikan penekanan khusus bahwa berjilbab adalah kewajiban bagi semua cewek yang mengaku muslimah dan mukminah. Itu sebabnya, berdosa bagi yang nggak mau melaksanakan kewajiban menutup aurat ini.

      Waktu sekarang Mon 20 Nov 2017, 00:53