Berilmu, Lemah lembut, dan Sabar

    Share
    avatar
    alif
    Administrator
    Administrator

    Posting : 12
    Poin : 24

    Berilmu, Lemah lembut, dan Sabar

    Post by alif on Sat 21 Aug 2010, 01:01

    “Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah)” (QS Luqman [31]: 17).

    Dalam sebuah hadits Rasulullah Saw memerintahkan umatnya agar mencegah kemunkaran dengan tangan, jika tidak mampu; dengan lisan, dan jika tidak mampu; dengan hati. Ketika menjelaskan hadits ini Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa amar ma’ruf dan nahi munkar adalah karakter seorang Mukmin. Beliau menambahkan, mencegah kemunkaran dengan tangan dan lisan hanya wajib bagi orang yang mampu. Sedangkan mencegah kemunkaran dengan hati, yakni mendoakan si pendosa agar bertaubat, adalah kewajiban tiap individu yang tidak gugur dalam setiap kondisi dan situasi.

    Namun, meskipun amar ma’ruf dan nahi munkar merupakan kewajiban setiap orang sesuai dengan kemampuannya, orang yang melakukan hal itu haruslah orang yang berilmu, dilakukan dengan lemah lembut dan santun, dan sabar.

    Berilmu
    Amar ma’ruf dan nahi munkar adalah ibadah yang sangat mulia. Sebagaimana kita maklumi, suatu ibadah akan diterima Allah Swt jika diniatkan ikhlas menggapai ridha-Nya. Selain itu, amar ma’ruf dan nahi munkar akan menjadi amal saleh jika berlandaskan pada ilmu yang benar.

    Karena itu, seseorang menyeru kepada kebajikan, maka ia wajib mempunyai ilmu akan hal itu. Begitu juga saat melarang kemunkaran. Seseorang yang melakukan suatu perbuatan tanpa ilmu, maka ia lebih banyak merusak daripada memperbaiki karena ilmu adalah imam amalan dan amalan mengikutinya.

    Ibnu Taimiyah berkata, “Tidak mungkin suatu perbuatan menjadi amal saleh jika orang yang melakukannya tidak berilmu dan paham atas apa yang ia lakukan. Umar bin Abdul Aziz berkata, ‘Barangsiapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu, maka apa yang dirusaknya lebih banyak dari apa yang diperbaikinya.’ Dalam hadits Mu’adz Bin Jabal Rasulullah Saw bersabda, ‘Ilmu adalah imam amalan, dan amalan mengikutinya.’ Sesungguhnya niat dan amalan jika tidak berlandaskan ilmu maka itu adalah kebodohan, kesesatan dan mengikuti hawa nafsu…dan inilah perbedaan antara orang-orang jahiliyah dan orang-orang Islam,” (Ibnu Taimiyah, al-Amru bil Ma’ruf wan Nahyu ‘anil munkar, hal. 19. cet. Wizarah Syuun al-Islamiyah).

    Pengertian ilmu yang dikemukakan oleh Ibu Taimiyah mencakup ilmu tentang kebaikan dan kemunkaran itu sendiri, yakni bisa membedakan antara keduanya dan berilmu tentang hal-hal yang diperintah dan yang dilarang oleh agama Al-Quran dan hadits.

    Lemah Lembut dan Santun
    Amar ma’ruf dan nahi munkar hendaklah dilakukan dengan lemah lembut dan santun. Sebab segala sesuatu yang dilakukan dengan lemah lembut akan bertambah indah dan baik. Sebaliknya, jika kekerasan menyertai sesuatu, maka akan menjadi jelek. Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya tidaklah lemah lembut ada pada sesuatu kecuali akan menghiasinya, dan tidaklah dicabut (hilang) dari sesuatu kecuali akan membuatnya jelek,” (HR Muslim no. 2594).

    Dalam riwayat lain disebutkan, “Sesungguhnya Allah Maha Penyantun, Ia menyukai sifat penyantun (lemah lembut) dalam segala urusan, dan memberikan dalam lemah lembut apa yang tidak diberikan dalam kekerasan dan apa yang tidak diberikan dalam selainnya,” (HR Bukhari dan Muslim).

    Imam Ahmad ra berkata, “Manusia butuh kepada mudarah (menyikapinya dengan lembut) dan lemah lembut dalam amar ma’ruf dan nahi munkar, tanpa kekerasan kecuali seseorang yang terang-terangan melakukan dosa, maka wajib atasmu melarang dan memberitahunya,” (Ibnu Muflih, al-Adab asy-Syar’iyyah [1/212] dan Ibnu Rojab, Jami’ul ‘Ulum al Hikam [2/272]).

    Jika zaman ini adalah zaman Imam Ahmad bin Hambal—Imam Ahlussunnah wal Jama’ah, sebuah zaman di mana ilmu dan sunnah lebih dominan mewarnai perilaku umat Islam kecuali ahlul bid’ah, tentu amar ma’ruf nahi munkar dilakukan dengan lemah lembut dan santun dalam menghadapi dan menyikapi kesalahan yang yang terjadi di masyarakat.

    Namun, dengan berkembangnya kebodohan di kalangan kaum muslimin dan semakin jauhnya mereka dari bimbingan Al-Quran dan Sunnah—kecuali orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah Swt, amar ma’ruf nahi munkar dilakukan dengan cara-cara kekerasan. Kita berdoa semoga Allah mengembalikan kaum muslim kepada kebenaran, amiin.

    Imam Ahmad berkata lagi, “Seseorang mesti menyeru dengan lemah lembut dan merendahkan diri. Jika mereka memperlihatkan kepadanya apa yang dibenci, janganlah marah. Karena (kalau marah) berarti ia ingin membalas untuk dirinya sendiri,” (Ibnu Muflih, al-Adab asy-Syar’iyyah [1/213] dan Ibnu Rojab, Jami’ul ‘Ulum al-Hikam ]2/272]).

    Sabar
    Hendaklah seseorang bersabar dalam beramar ma’ruf nahi munkar. Merupakan sunnatullah bahwa setiap orang yang mengajak kepada kebenaran dan kebaikan serta mencegah dari kemunkaran akan menghadapi bermacam bentuk cobaan. Jika ia tidak bersabar dalam menghadapinya, maka kerusakan yang ditimbulkan lebih banyak dari kebaikannya. Sebagaimana wasiat Luqman terhadap anaknya, “Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang munkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu.,” (QS Luqman [31]: 17).

    Allah Swt memerintahkan para rasul—mereka adalah panutan orang yang beramar ma’ruf dan nahi munkar—untuk bersabar, sebagaimana firman Allah Swt kepada Nabi Muhammad Saw, “Hai orang yang berselimut. Bangunlah, lalu beri peringatan. Dan Rabbmu agungkanlah. Dan pakaianmu bersihkanlah. Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah. Dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu bersabarlah,” (QS al-Mudatstsir [74]: 1-6).

    Banyak ayat yang memerintahkan untuk bersabar dalam menghadapi segala cobaan dan problem hidup serta dalam berdakwah. Ibnu Taimiyah berkata, “Jika tidak sabar menghadapi cobaan dalam beramar ma’ruf dan nahi munkar pasti akan menimbulkan salah satu dari dua kerusakan; meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar atau timbulnya kerusakan yang lebih besar dari meninggalkan amar ma’ruf dan nahi munkar (karena dilakukan dengan cara-cara kekerasan). Maka barangsiapa yang menyeru tapi tidak sabar, atau sabar tetapi tidak menyeru, atau tidak menyeru dan tidak bersabar, maka akan timbul dari ketiga macam ini kerusakan, kebaikan itu hanya terdapat dalam menyeru (kepada kebaikan) dan bersabar,” (Ibnu Muflih, al- Adabusy Syar’iyah, 1/181).

    Ketiga hal di atas, yakni ilmu, lemah lembut, sabar harus dimiliki oleh orang yang beramar ma’ruf dan nahi munkar dalam setiap situasi dan kondisi. Ilmu sebelum menyeru dan melarang, lemah lembut dalam melaksanakannya, dan sabar dalam menjalaninya.

    Sebagian ulama salaf berkata, “Tidaklah menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemunkaran kecuali orang yang berilmu (memahami) apa yang ia serukan, memahami apa yang dia larang, lemah lembut di dalam apa yang ia serukan, berlemah lembut dalam apa yang ia larang, santun dalam apa yang ia serukan, dan santun dalam apa yang ia larang,” (Ibnu Taimiyah, Majmu’ al-Fatawa [28/137] dan Ibnu Muflih, al-Adab asy-Syar’iyyah [1/213]).
    Wallahu a’lam bis shawab.

      Waktu sekarang Sun 25 Jun 2017, 10:28