Pola Kristenisasi di Indonesia

    Share

    ahmad ismail
    Kafilah
    Kafilah

    Posting : 9
    Poin : 23

    Pola Kristenisasi di Indonesia

    Post by ahmad ismail on Wed 30 Dec 2009, 10:42

    Oleh :Ahmad Ismail fernandez M.Div,D.D

    pola kristenisasi yang saya bahas dibawa ini sebenarnya bukan hal yang baru karena sebagian umat Islam sudah mengetahuinya. Sekalipun demikian, gerakan Kristenisasi selalu berwajah banyak. Alangkah baiknya kita tetap waspada dan siap untuk mengantisipasinya.

    Dalam konteks Indonesia yang plural dan memiliki beragam budaya, pola kristenisasi melalui banyak aspek, diantaranya akulturasi budaya. membahas pola kristenisasi dalam aspek ini (akulturasi budaya)tentunya sangat melelahkan karena ribuan lembaran kertas habis hanya untuk membahas masalah ini. sehubungan dengan itu, saya hanya membahasnya dalam konteks bonum publicum, yang hemat saya praksis akan tetapi langsung menyentuh substansi permasalahan.Adapaun metode Kristenisasi di Indonesia adalah sebagai berikut :

    A. Katolik
    Mencari orang non katolik (Islam) yang mempunyai massa atau cendekia, membantu dengan memberikan materi atau biaya pendidikan sampai pendidikan tinggi, atau suatu jenis bantuan yang sekurang-kurangnya membuat orang yang dibantu merasa berhutang budi. Metode ini sangat praktis dan hemat. Ketimbang menerbitkan brosur buletin atau buku dan majalah, yang dipastikan mempersempit ruang gerak mereka.

    Lembaga – lembaga pendidikan Katolik baik pendidikan dasar, menengah maupun pendidikan tinggi, harus memahami missi perutusan. Maksudnya brain washing (mencuci otak) siswa / mahasiswa non Katolik.

    Dalam bidang politik (sektor pendidikan).

    Sistem pendidikan melalui Alm. Dr Daud Yusuf (mantan menteri pendidikan) dengan memasukkan kata pendidikan dalam pengajaran. Dibanding dua metode sebelumnya metode ini lebih berbahaya, lebih merusak ketimbang menghadirkan setan Lucifer. Hasilnya sistem pendidikan yang ada sekarang tidak bisa mendidik masyarakat untuk menjadi manusia. Maksudnya para sarjana tidak bisa bekerja, apalagi berkreasi dan berpikir. Kerjanya hanya mau menikmati saja. Berbeda dengan sekolah khusus Katolik, yang mendidik orang untuk bisa di segala bidang.

    Dalam bidang politik (ada bersama) Toleransi

    keberhasilan metode di atas tentunya harus ditopang toleransi. Sayangnya orang Islam tidak tahu membedakan pendapat orang dan orang pendapat, terutama dalam hal toleransi agama. Mengapa saya katakan tidak tau ? karena Toleransi berasal dari kata latin “tolerre” yang artinya memikul atau mengangkat. Memikul atau mengangkat ini adalah jenis pekerjaan yang berkonotasi memberatkan orang. Memikul dan mengangkat bermakna
    negatif. Jadi, orang bertoleransi adalah orang yang menyerah pada keadaan. Apakah kita juga harus menyerah pada keadaan ? Tentu saja tidak ! Apa yang saya kemukakan ini mungkin terlalu kasar. Akan tetapi sudah seharusnya saya kemukakan karena toleransi dalam praktek beragama adalah genjatan senjata.

    Sebetulnya saya tidak menghargai agama lain, seperti agama saya sendiri karena kalau demikian untuk apa tidak memeluk agama itu. Al Qur’an mengajarkan – Lakum Din Nukum Waliyadin - mengajarkan saya untuk menghargai pribadi dan pendapat orang lain yang memeluk agama lain, dan dalam konsep ini saya yakin bahwa bagi dia agamanya merupakan sesuatu yang sangat berharga baginya.

    Lalu bagaimana musyawarah untuk mufakat?
    Ini lebih celaka lagi ! Sebab musyawarah terdapat dimana-mana dipermukaan bumi, karena bermusyawarah adalah satu-satunya cara orang belajar untuk berdialog. Namun mufakat mengenai pendapat adalah hal yang sangat mustahil. Mufakat mengenai pelaksanaan itulah kerjasama sejati. Musyawarah selalu diadakan oleh sejumlah orang. Mereka orang berpendidikan, maka mempunyai pendapat pribadi. Bagaimana mungkin semua orang itu berpendapat sama. Kalau demikian pengikut musyawarah itu tak lain dan tak bukan adalah anggota kawanan yang sungguh tidak punya berkepribadian. Memaksa orang mengambil alih pendapat umum merupakan penghancuran kepribadian. Jadi mufakat mengenai pendapat adalah hal yang mustahil.

    Lain pendapat mengenai pelaksanaan. Kalau jelas bahwa kebanyakan berpendapat demikian, padahal saya berpendapat lain, saya harus loyal dalam melaksanakan apa yang diputuskan oleh kebanyakan anggota pembicara atau dialog. Ini saya laksanakan tanpa perlu mengubah pendapat saya sendiri. Hanya kalau semua orang yang mengambil bagian dalam sebuah dialog memiliki kedewasaan untuk menerima pendapat orang lain, untuk dilaksanakan dialog antar agama mungkin.

    Jangan lupa bahwa kita semua diciptakan untuk dicintai Allah swt. Membalas cinta itu hanya mungkin lewat menerima panggilan hidup kita sendiri. Akan tetapi orang lain melaksanakan hal yang sama. Memang kita tidak perlu dan bahkan tidak boleh menyesuaikan jalan hidup kita dengan keinginan-keinginan orang lain. Allah swt memilih kita. Bukan orang lain. Akan tetapi orang lainpun dipilih Allah swt, maka kita tidak boleh memaksa orang lain menempuh jalan hidup kita. Ini berarti tidak mungkin ada dialog antar agama. Mengapa ? Karena kita tidak menghargai agama lain. Agama lain itu bukan cara kita membalas cinta Allah swt. Yang dapat kita terima adalah ada orang yang beragama lain.

    Oleh karena itu yang mungkin adalah dialog antar orang yang beragama. Nah dalam hubungan dengan tulisan ini, saya mau mengatakan bahwa saya hanya menghargai orang yang lain agamanya. Karena saya berpegang pada agama saya, tetapi justeru karena keyakinan saya itu, saya akan dan dapat menghargai pribadi-pribadi lain yang beragama lain. Dan dalam hal ini mengenai pendapat yang paling mendasar adalah Iman.

    Harus saya akui bahwa saya tidak dapat menghargai agama lain seperti agama saya sendiri, karena Iman saya adalah tunggal, dan saya juga tidak menghargai agama lain lebih daripada agama saya, karena sebab apa saya tidak menganut agama itu. Akan tetapi saya dapat berdialog dengan orang itu oleh karena saya menghargai dia sebagai pribadi yang memeluk agama lain, dan saya yakin bahwa bagi dia agamanya merupakan sesuatu hal yang paling berharga.

    Misalnya, saya menerima bahwa Yesus mengalami sesuatu pengalaman rohani yang sejati. Dan bahwa pengalaman rohani itu menjadi dasar agama Kristen. Jadi saya menerima dan menghargai Yesus sebagai seorang manusia rohani yang mendalam. Saya tidak toleran terhadap Yesus, karena Yesus bukan beban bagi saya, tetapi saya menghargai Yesus, sebab beliau dan saya diciptakan untuk dicintai Allah swt dan membalas cinta Allah swt ini dengan cara hidup sesuai dengan panggilan hidup masing masing.

    Kalau seseorang beragama lain menyerang saya, dan saya membalasnya, bisa juga dibilang toleran. Akan tetapi, suasana tetap suasana tegang. Kerukunan rineka (artifisial). Mustahil saya bisa rukun secara sungguh-sungguh dengan seseorang yang tidak dapat saya hargai.

    Disini perlu saya tegaskan bahwa kerukunan antar orang beragama adalah bukan suatu upaya untuk menghindari konflik karena ‘saya’ tidak mungkin rukun dengan seseorang yang harus ‘saya’ dihindari. Salah satu prinsip pemerintahan yang bermaksud baik, akan tetapi ternyata mempersulit mengembangkan sikap berdialog. (Musyawarah untuk mufakat)

    B.NON KATOLIK

    Kristenisasi kemasyarakat awam dilakukan secara langsung, dengan beberapa metode yang terbagi dalam dua tahap.

    Tahap Pertama
    Jangka pendek ‘merekrut jumlah umat’ : melalui bantuan sosial berupa makanan seperti indomie, gula pasir dan lainnya. Metode ini cukup bagus, akan tetapi hasilnya tidak begitu menggembirakan karena terlalu banyak membuang energi dan biaya. Pekerjaan seperti ini biasanya dilakukan oleh gereja – gereja pembaharu seperti aliran Pantekosta. Gereja tua “Katolik”
    berdiri sebagai inkuisitor yang agung.

    Tahap Kedua
    Jangka panjang menerbitkan buletin atau brosur yang menyerang agama lain. Tahap ini tetap dilakukan oleh gereja – gereja pembaharu. Di Indonesia, pekerjaan mulia ini dikerjakan Yayasan Kerja Philia yang berkedudukan di Jakarta. Salah satu dari karya mereka adalah Buletin Da’wah Ukhuwah, menuju Jalan ke Sorga, Yesus dan Muhamad dan lainnya.
    Kerja mereka ini masih terbilang amatir. Karena para biarawan yang sedianya dilibatkan dalam proyek ini, tidak diperkenankan oleh Sri Paus Yohanes Paulus II. keputusan sri paus ini dapat kita baca dalam dokumen Vatican II tentang status Indonesia dan biarawan dan biarawatinya. Bahwa Indonesia bukan target dan misi gereja Katolik. Tetapi anehnya ‘oknum-oknum’ gereja katolik di Indonesia tetap melaksanakan missi perutusan !
    avatar
    rayya
    Kafilah
    Kafilah

    Posting : 4
    Poin : 4
    Age : 29
    Lokasi : Jakarta

    Re: Pola Kristenisasi di Indonesia

    Post by rayya on Fri 15 Jan 2010, 14:06

    wah ternyata segitu jahatnya yah mereka cemas

      Waktu sekarang Mon 27 Mar 2017, 15:28