Islam, Sains, dan Angka Arab

    Share
    avatar
    unsiqa
    Kafilah
    Kafilah

    Posting : 5
    Poin : 15

    Islam, Sains, dan Angka Arab

    Post by unsiqa on Sat 26 Dec 2009, 14:22

    Diakui atau tidak, jika kita bicara sains, maka yang terdetik dalam pikir kita adalah bangsa Eropa, seolah peradaban lain tidak memiliki kontribusi apapun. Padahal, sains yang kini berkembang merupakan akumulasi pengetahuan para saintis masa lalu. Tidak banyak yang tahu bahwa operasi ilmu hitung algorisme hanya mungkin berjalan lewat pikiran brilyan dari al-Khwizmi, ahli matematika Islam. Hal ini dikarenakan informasi yang didapat, baik dibangku sekolah dan perkuliahan pun hanya memperkenalkan sains beserta tokoh sains Eropa.

    Tulisan ini berikhtiar memperkenalkan secara singkat tokoh sains Islam dan kontribusi sains Islam, khususnya bidang ilmu pasti (ilmu hitung) terhadap perkembangan sains modern. Deskripsi singkat ini bertujuan untuk menggugah kajian lebih jauh tentang sejarah sains yang berkembang di dunia Islam dan sumbangan besarnya bagi perkembangan sains modern.

    TOKOH SAINS ISLAM
    Dalam Science and Civilization in Islam, Sayed Hosen Nasr mendaftar 20 tokoh universal sains Islam. Keduapuluh tokoh itu adalah: 1). Jabir ibn Hayyan/ Geber (sekitar 103H/721 M-200 H/815 M), pelopor Ilmu kimia di dunia Islam. 2). Abu Yusuf Ta’qub ibn Ishaq al-Kindi/alkindus (sekitar 185 H/801 M-260 H/873 M), filosof Arab pertama, pendiri mazhab filsafat peripatetik Islam. 3), Hunain ibn Ishaq/ Joannitius (184 H/810 M-263 H/877 M), cendekiawan Kristen yang masyhur di dunia Islam, penerjemah karya-karya Yunani dan Syiria ke dalam bahasa Arab, dan seorang dokter. 4), Tsabit ibn Qurrah (211 H/826 M atau 221 H/836-288 H/901 M), ahli matematika, dan astronomi. 6). Muhammad ibn Musa al-Khawarizmi /algorime (w. 249 H/863 M), ahli matematika terbesar Islam. Penulis tentang geografi dari kalangan muslim yang pertama. Bukunya, Liber Argoritum (Latin), memperkenalkan angka-angka Arab dan sistem persepuluhan kepada Eropa.

    Tokoh selanjutnya dalah Muhammad ibn Zakariya al-Razi/ Rhazes (sekitar 251H/ 865 M-313 H/925 M), dokter klinis terbesar Islam, ahli filsafat dan ahli kimia. 8) Abu Nasr al-Farabi/Alpharabius (sekitar 258 H/870 M-339 H/950 M), ahli filsafat, Muslim pertama yang mengklasifikasi sains, ahli teori musik, dan sufi 9). Abu al-Hasan al-Mas’udi (w 345 H/956 M), sejarawan, ahli geografi, ahli geologi dan ahli zoologi. 10). Abu Ali al-Husain ibn Sina/Avicenna (370 H/980 M-428 H/1037 M), ahli ilmu kedokteran, filsafat, dan teologi. 11). Abu Ali al-Hasan ibn al-Haitsam/ alhazaen (sekitar 354H/965 M-430 H/1039 M), ahli fisika. 12). Abu Raihan al-Biruni (862 H/973 M-sekitar 442 H/1051 M). ahli fisika, geografi, matematika, mineralogi, astronomi dan astrologi. 13). Abu al-Qasim Maslamah al-Majrithi (W. sekitar 398 H/1007 M), ahli kimia yang menulis juga tentang astronomi, matematika.

    Nama Abu Hamid Muhammad al-Ghazali/Algazel (450 H/1058-505-1111 M), ahli teologi dan sains agama juga tercatat sebagai salah satu ilmuan besar Islam. 15). Abu al-Fath Umar ibn Ibrahim al-Khayyami (Umar Khayyam), sufi, gnostik, dan penyair besar, ahli matematika, filsafat. 16). Abu al-Walid Muhammad ibn Rusyd/ Averroes(520 H/1126 M-595 M), ahli hukum agama, kedokteran dan filsafat. 17). Nashiruddin al-Thusi (597 H/1201 M-672 H-672 H/1272 M), ahli astronomi, matematika, teologi, filsafat. 18). Quthbuddin al-Syirazi (634 H/1236M-710 H-1311 M), komentator Qanun, karya medis Ibn Sina. 19). Abd al-Rahman Abu Zaid ibn Khaldun (732 H/1322 M-808 H/1406 M), ahli ilmu humaniora dan kebudayaan. 20) Baha’ al-addin al-Amili (953 H/1546M-1030 H/1621, ahli teologi, sufi, matematika, arsitek, ahli kimia, ahli guna-guna (occultisme).

    Angka Arab
    Kontribusi Islam dalam di bidang ilmu hitung berupa angka-angka yang hingga kini di Barat disebut angka-angka Arab (Arabic chiphers, ciphres Arabique). Selanjutnya asas algorisme (Spanyol: alguismo), yakni sistem hitungan nilai angka menurut tempat dari kanan ke kiri: satuan, puluhan, ratusan, ribuan dan seterusnya serta sistem persepuluhan (decimal) sebagai pengganti perenampuluhan (sexagesimal) yang dipakai sejak purbakala di kebudayaan Semit.
    Angka-angka Romawi tidak mempunyai nol dan tak cocok dipakai bagi sistem persepuluhan dengan angka-angka di belakang koma. Dengan angka-angka Romawi tidak mungkin dilakukan penjumlahan dari atas ke bawah menurut lajur-lajur sesuai dengan asas algorisme karena cara notasi dengan angka-anga Romawi kerapkali diperlukan deretan yang lebih panjang bagi nilai angka kecil. Umpamanya CCCLXXXXVIII (388) lebih panjang deretannya daripada M (1.000.000.000). Dengan angka-angka Arab notasinya adalah ??? untuk 388 dan 1 ... ... ... untuk 1.000.000.000. Jadi makin besar nilainya, makin panjang deretannya ke samping dengan ketentuan setiap angka sebelah kiri mempunyai nilai sepuluh kali lipat angka yang langsung ada di sebelah kanannya, yakni sistem persepuluhan dan algorisme.

    Dengan demikian penjumlahan bilangan-bilangan dari atas ke bawah untuk beberapa deret angka pun tak mengalami kesulitan. Tanpa notasi Arab tidak mungkin ada mesin jumlah atau mesin hitung (calculator) modern. Notasi India dan Tiongkok-Jepang tidak mengenal asas algorisme ini.

      Waktu sekarang Wed 20 Sep 2017, 23:30