Filosofi dari Sebuah "Ikatan Pernikahan"

    Share
    avatar
    Keisha Sulfa
    Kafilah
    Kafilah

    Posting : 11
    Poin : 23
    Age : 30
    Lokasi : Kairo, Egypt

    Filosofi dari Sebuah "Ikatan Pernikahan"

    Post by Keisha Sulfa on Thu 10 Dec 2009, 09:25

    UNTUK SUAMI
    (Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Laki-laki)
    Pernikahan atau perkawinan, Menyingkap tabir rahasia ...
    Isteri yang kamu nikahi,
    Tidaklah semulia Khadijah,
    Tidaklah setaqwa Aisyah,
    Pun tidak setabah Fatimah ...
    Justru Isteri hanyalah wanita akhir zaman,
    Yang punya cita-cita, Menjadi solehah...
    Pernikahan ataupun perkawinan,
    Mengajar kita kewajiban bersama ...
    Isteri menjadi tanah, Kamu langit penaungnya,
    Isteri ladang tanaman, Kamu pemagarnya,
    Isteri kiasan ternakan, Kamu gembalanya,
    Isteri adalah murid, Kamu mursyid (pembimbing)-nya,
    Isteri bagaikan anak kecil, Kamu tempat bermanjanya ...
    Saat Isteri menjadi madu, Kamu teguklah sepuasnya,
    Seketika Isteri menjadi racun, Kamulah penawar bisanya,
    Seandainya Isteri tulang yang bengkok, ber-hati²lah meluruskannya ...
    Pernikahan ataupun perkawinan,
    Menginsafkan kita perlunya iman dan taqwa ...
    Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
    Karena memiliki Isteri yang tak sehebat mana,
    Justru kamu akan tersentak dari alpa,
    Kamu bukanlah Muhammad Rasulullah atau Isa As,
    Pun bukanlah Sayyidina Ali Karamaullahhuwajah,
    Cuma suami akhir zaman, yang berusaha menjadi soleh ... Amiiin

    UNTUK ISTRI
    (Sebuah Syair Renungan Singkat Bagi Wanita)
    Pernikahan ataupun perkawinan,
    Membuka tabir rahasia,
    Suami yang menikahi kamu,
    Tidaklah semulia Muhammad, Tidaklah setaqwa Ibrahim,
    Pun tidak setabah Isa atau Ayub,
    Atau pun segagah Musa, apalagi setampan Yusuf
    Justru suamimu hanyalah pria akhir zaman,
    Yang punya cita-cita, Membangun keturunan yang soleh ...
    Pernikahan ataupun Perkawinan,
    Mengajar kita kewajiban bersama,
    Suami menjadi pelindung, Kamu penghuninya,
    Suami adalah Nakoda kapal, Kamu navigatornya,
    Suami bagaikan balita yang nakal, Kamulah penuntun kenakalannya,
    Saat Suami menjadi Raja, Kamu nikmati anggur singasananya,
    Seketika Suami menjadi bisa, Kamulah penawar obatnya,
    Seandainya Suami masinis yang lancang, sabarlah memperingatkannya
    Pernikahan ataupun Perkawinan,
    Mengajarkan kita perlunya iman dan taqwa,
    Untuk belajar meniti sabar dan ridho,
    Karena memiliki suami yang tak segagah mana,
    Justru Kamu akan tersentak dari alpa,
    Kamu bukanlah Khadijah, yang begitu sempurna di dalam menjaga
    Pun bukanlah Hajar ataupun Mariam, yang begitu setia dalam sengsara
    Cuma wanita akhir zaman, yang berusaha menjadi solehah ... Amiiin

      Waktu sekarang Mon 20 Nov 2017, 00:55