Islam-Kristen, Konflik yang Tak Pernah Selesai

    Share

    agase2
    Pion Menengah Artrab
    Pion Menengah Artrab

    Posting : 63
    Poin : 183

    Islam-Kristen, Konflik yang Tak Pernah Selesai

    Post by agase2 on Mon 07 Dec 2009, 11:01

    Konflik besar di Maluku yang merenggut ribuan nyawa ummat Islam dan ummat Kristen selama setahun ini telah menyentakkan kita, bahwa slogan kerukunan antar ummat beragama, seperti yang sering dilontarkan dan dibangga-banggakan para pejabat pemerintahan Orde Baru, ternyata cuma `pepesan kosong'. Konflik itu telah menyadarkan kita, ternyata masih ada setumpuk masalah dalam hubungan antar ummat beragama di Indonesia. Adapun selama ini tak tampak ke permukaan, karena oleh rezim Soeharto potensi konflik itu diredam ketat dengan dalih menjaga stabilitas keamanan dan mengamankan pembangunan nasional

    Setelah alat peredam dan penyumbat itu lepas maka meledaklah berbagai konflik di tanah air sesuai dengan potensi konflik yang ada di daerah setempat. Masalahnya, potensi konflik di negeri yang masyarakatnya majemuk ini begitu banyak dan kompleks, sehingga acapkali terjadi tumpang tindih satu faktor penyebab dengan faktor lainnya. Tentu saja ini menyebabkan orang kesulitan mengidentifikasikannya.

    Contohnya kembali pada kasus kerusuhan di Maluku. Satu pihak mengatakan faktor konfliknya adalah masalah agama dengan menafikan faktor politik, sebaliknya di pihak lain mengatakan faktornya adalah politik dengan menafikan sama sekali faktor agama. Padahal boleh jadi dua faktor �atau lebih� itu sama kuatnya dalam mewarnai persoalan Maluku. Dengan asumsi demikian, maka tak pelak muncul pertanyaan, kenapa dalam sejarah rakyat negeri ini friksi antara kalangan Islam dan Kristen di Indonesia seperti tak habis-habisnya terjadi.

    Meski tak sedahsyat konflik di Maluku, konflik di antara kelompok itu kerap terjadi di berbagai pelosok negeri. Kasus Situbondo, Tasikmalaya, Kupang, Ketapang Jakarta, Sambas, dan Sanggau Ledo serta terakhir Yayasan Doulos Jakarta kian memperkuat pertanyaan tentang hubungan antar kedua komunitas besar itu.

    Seperti dikatakan banyak pihak, tidak ada hubungan antar ummat beragama yang lebih intens dikaji para cendekiawan daripada hubungan antara kaum Muslimin dengan kaum Ahli Kitab, khususnya antara Islam dan Kristen. Sebab sepanjang sejarah, tak pernah terjadi ketegangan dan konflik yang lebih besar daripada antar pemeluk dua agama ini. Konflik itu bahkan pernah menghebat dalam bentuk peperangan berabad-abad, yang terkenal dengan nama Perang

    Salib (Crusade). Padahal, secara teologis, dua agama ini sama-sama berakar pada ajaran Nabi Ibrahim, sama-sama mengklaim sebagai agama monoteis dan sama-sama diakui sebagai agama langit (samawi). Maka tak heran hal ini menjadi topik pembicaraan yang tak habis-habisnya dibahas dalam berbagai forum diskusi. Di Indonesia saja, diskusi seperti sudah berkali-kali dilakukan sejak awal masa Orde Baru. Dan yang terakhir serta terbesar dilaksanakan adalah konferensi internasional bertema �Hubungan Islam-Kristen Dulu, Kini, dan Esok� yang berlangsung di Hotel Horison Jakarta, 7-9 Agustus 1997. Acara besar ini dihadiri sekitar 35 pakar dunia tentang Islam dan Kristen seperti John L. Esposito, Thomas Michel, Mahmoud Ayoub, dan Ibrahim Abu Rabi. Dari Indonesia sendiri tampil Taufik Abdullah, Victor I. Tanja, Alwi Shihab, dan Din Syamsuddin.

    Seperti dikatakan Menteri Agama Tarmizi Taher saat itu, niatan menyelenggarakan forum demikian tak lain sebagai satu langkah upaya mencari titik kesamaan dan mencoba mengatasi masalah konflik politiknya yang telah menyengsarakan ummat beragama di dunia, utamanya antara Islam dan Kristen. Sayangnya, sudah sedemikian banyak forum dialog digelar tapi konflik dan pertikaian masih saja muncul di berbagai daerah. Seperti banyak dicibir orang, forum seperti itu terlalu elitis dan hanya manis di bibir saja. Karena itu perlu dicari solusi yang lebih jitu. Apakah gerangan? Mari kita bahas bersama (Hidayatullah)

      Waktu sekarang Tue 28 Feb 2017, 21:54