Hati-Hati Upaya Pemurtadan

    Share

    agase2
    Pion Menengah Artrab
    Pion Menengah Artrab

    Posting : 63
    Poin : 183

    Hati-Hati Upaya Pemurtadan

    Post by agase2 on Mon 07 Dec 2009, 10:22

    Penganut Kristen harus dan perlu dibedakan dalam tiga golongan.

    Pertama
    , penganut Kristen yang buta (tidak tahu dan tidak faham agama Kristen, tidak pernah membaca dan mempelajari Bibel, tidak pernah ke Gereja dan kalau ditanya tentang agama Kristen, mereka tak dapat menjawab secara argumenentatif.

    Kedua,
    penganut Kristen yang menjadi qissiis dan rahib (mendalami ajaran Kitab Suci Injil dan mengamalkannya), seperti yang diungkapkan al-Qur'an surah al-Maa-idah ayat 82-83, yang kalau terdengar oleh mereka penyampaian wahyu kepada Rasul Allah, mereka menangis dan menyatakan beriman kepada Allah.

    Ketiga
    , penganut Kristen seperti yang diungkapkan Allah di dalam al-Qur'an (Al-Baqarah: 120) bahwa Yahudi dan Nasrani tidak senang kepada Islam sehingga umat Islam mengikut agama mereka. Nah, yang berbahaya bagi umat Islam ialah penganut Kristen golongan terakhir ini.

    Golongan terakhir inilah yang secara gigih berupaya memurtadkan (mengkristenkan) umat Islam, yang dalam perkembangan selanjutnya dikatakan kristenisasi. Upaya ini telah berlangsung sejak lama, termasuk di Indonesia. Hanya di Indonesia, ketika Orde Baru jaya, banyak pejabat negeri ini tidak percaya bahwa kristenisasi besar-besaran telah dan sedang terjadi di Indonesia.

    Tetapi setelah dikeluarkan buku Fakta dan Data tentang kristenisasi di Indonesia oleh Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, banyak yang terperangah dan yakin bahwa pihak misionaris zending telah bekerja keras siang-malam untuk mengkristenkan umat Islam secara khusus. Ironisnya, pada Orde Reformasi di Indonesia, upaya kristenisasi itu semakin berani dan terbuka bahkan keji.

    Mereka menggunakan Al-Qur`an dan Hadits dengan pengertiannya yang sengaja diputarbalikkan untuk membenarkan ajaran sesat mereka, dan sekaligus untuk mengelabui umat Islam, agar sudi masuk Kristen. Berbagai trik halus mereka lakukan, di antaranya bergerilya dengan kedok "dakwah ukhuwwah" dan "shirathal mustaqim" secara gencar dan tersembunyi. Gerakan ini dikoordinasi oleh Yayasan NEHEMIA yang dipelopori Dr Suadi Ben Abraham, Kholil Dinata dan Drs. Poernama Winangun alias H. Amos.

    Yang dimaksud dengan Kristenisasi dalam konteks ini menurut YB Sariyanto Siswosoebroto ialah mengkristenkan orang (non Kristen) secara besar-besaran dengan segala daya upaya yang mungkin agar adat dan pergaulan dalam masyarakat mencerminkan ajaran agama Kristen. Masyarakat yang demikian akan lebih melancarkan tersiar luasnya agama Kristen. Akhirnya kehidupan rohani dan sosial penduduk diatur dan berpusat ke gereja.

    Upaya kristenisasi yang gencar itu dilancarkan bukan hanya terhadap orang-orang yang belum beragama atau yang menganut kepercayaan animisme saja, tetapi juga terhadap orang yang telah beragama Islam. (Beberapa keluarga penganut Islam berhasil diKristenkan).

    Di kalangan penganut Kristen, pengkristenan dipercayai sebagai satu tugas suci yang dalam keadaan bagaimanapun tidak boleh ditinggalkan. Mengkristenkan orang dianggap sebagai membawa kembali anak-anak domba yang tersesat, dibawa kembali kepada induknya. Manusia-manusia sebagai anak domba akan dibawa kepada kerajaan Allah.

    Dan kristenisasi merupakan usaha internasional. Artinya upaya mengeristenkan umat manusia dilakukan ke seluruh dunia, sedang dalam pengertian politik ialah: Berusaha melahirkan undang-undang ataupun peraturan atau tindakan dan sikap penguasa, yang memberi kesempatan lebih banyak lagi bagi tersiarnya agama itu atau menguntungkan bagi agama itu. Apabila penyebaran Kristen dalam masyarakat telah berhasil dan dalam bidang politik berhasil pula, maka terbukalah jalan yang selebar-lebarnya untuk menjadikan keseluruhan masyarakat bernapaskan Kristen, sehingga diharapkan dengan cepat umat Kristen akan menjadi mayoritas, seperti di Filipina, yang sekarang ini ternyata menjadi basis perluasan Kristen ke seluruh Asia Tenggara.

    Usaha Kristenisasi itu dilakukan dengan segala daya, biaya, peralatan yang lengkap, rencana yang masak, tehnik yang tinggi, kemauan dan kesungguhan yang mantap dan kuat, keyakinan yang mendalam serta melalui segala jalan dan saluran yang meresap dalam hampir semua aspek kehidupan manusia -- sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, politik dan segala macam hiburan.

    Musyawarah yang gagal

    Pada tanggal 30 Nopember 1967 Pemerintah Indonesia mengadakan Musyawarah Antar Agama bertempat di gedung Dewan Pertimbangan Agung Jakarta, dengan maksud antara lain untuk membina saling pengertian dan saling toleransi antara pemeluk-pemeluk agama terutama Islam dan Kristen. Dalam sambutan tertulis Jenderal Suharto pada waktu itu, pejabat Presiden Republik Indonesia, menyatakan keprihatinannya atas kenyataan bahwa penyiaran agama masih dilakukan orang terhadap mereka yang telah memeluk agama tertentu. Dijiwai oleh sambutan Pejabat Presiden itu maka pihak umat Islam mengusulkan rumusan persetujuan, yaitu: Rakyat yang telah beragama jangan dijadikan sasaran penyebaran agama lain. Umat Islam setuju, tetapi pihak Kristen menolak keras usul itu. Maka dicoba mengadakan pertukaran pikiran dan pendekatan-pendekatan namun sia-sia, yang mengakibatkan musyawarah yang berlangsung hampir 24 jam itu tidak menghasilkan sesuatu yang kongkrit.

    Selain Islam, Masuk Neraka

    Kalau saja dalam beragama dibolehkan mempertuhankan akal, mungkin banyak orang Islam meninggalkan Islam, lalu masuk Kristen. Sebab dalam Kristen, perintah dan kewajiban tak banyak. Shalat tak perlu sampai lima kali sehari semalam. Dan mungkin masih banyak kemudahan-kemudahan serta keringanan-keringanan lain lagi. Tetapi Allah dalam hal ini telah memberikan ketentuan: "Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka tidak akan diterima dan ia di akhirat menjadi orang-orang yang rugi." (Ali Imran: 85)

    Yang dimaksud dengan merugi di sini ialah dimasukkan ke dalam neraka. Firman Allah ini menguatkan firman Allah di dalam al-Qur'an. "Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah adalah Islam." (Ali Imran: 19)

    Bukan Allah diktator atau otoriter, tetapi apa yang dikatakanNya itu tentu yang baik, sedang selainnya pasti tak baik. Apa gunanya memilih agama yang dirasakan enak dan mudah dilaksanakan, kalau akibatnya di akhirat nanti, dilemparkan ke dalam neraka? Wallaahu Ta'ala a'lam. (bps/waspada)

    Oleh Muhammad Hanafi Maksum Manurung

      Waktu sekarang Tue 28 Feb 2017, 21:55