Sekte Kristen Bush : Gembala Evangelis (US Center for world mission)

    Share

    agase2
    Pion Menengah Artrab
    Pion Menengah Artrab

    Posting : 63
    Poin : 183

    Sekte Kristen Bush : Gembala Evangelis (US Center for world mission)

    Post by agase2 on Mon 07 Dec 2009, 10:08

    Menyebarlah Gembala Evangelis
    Tidak mudah untuk mendapatkan Majalah Time edisi 30 Juni 2003. Tak jelas, apakah ada yang memborong atau dilarang aparat. Yang pasti, laporan utama majalah itu tentang proyek kristenisasi, khususnya Kristen Evangelis, di seluruh dunia.

    Aliran ini juga yang dianut oleh Presiden AS George W Bush dan PM Inggris Tony Blair. Judul cover depannya ''Haruskah Mengkristenkan Islam?'' dengan subjudul ''Sekelompok misionaris generasi baru meluncurkan kampanye untuk menyebarkan ajaran Injil ke negara-negara Islam''. Disebut generasi baru, karena memang bukan yang pertama. Apalagi, para pendeta atau ''pekerja agama'' itu relatif masih muda-muda. Usianya antara 20-30 tahun. Mereka rela datang atau diutus ke negara-negara yang menjadi incaran para pemegang kebijakan Kristen Evangelis. Mereka percaya semua itu adalah perintah dari Tuhan Yesus untuk menyebarkan ajaran suci Kristen.

    Seperti pesan Mattheus, pergi dan carilah murid dari seluruh bangsa, baptis mereka atas nama Tuhan Bapa dan Tuhan Anak dan Rohul Kudus, dan ajarilah mereka untuk mematuhi semua yang Aku perintahkan. Dalam catatan Luis Bush, seorang Evangelis asal Argentina, sebanyak 97 persen warga dunia belum menganut Evangelis tinggal di garis lintang 10 dan 40 (lihat peta).

    Itu adalah negara-negara miskin dengan kebanyakan menganut Islam, Budha, dan Hindu.
    Mereka inilah yang menjadi incaran serius misi Evangelis pada abad ke-21 ini. Asia dan Timur Tengah adalah sasaran utamanya. Sedangkan negara-negara di belahan Amerika Latin dan sebagian Afrika sudah mereka garap sejak 1970-an. Upaya itu tergolong sukses.

    Tidak kurang dari 27 ribu misionaris sudah disiapkan untuk misi itu. Jumlah ini mengalami kenaikan 100 persen dalam 19 tahun (1982-2001). Tercatat, 1 dari 2 adalah orang Amerika, dan 1 dari 3 adalah misionaris Evangelis. Total misionaris Evangelis mencapai 33 persen dari seluruh misionaris.

    Tidak terhitung berapa besar dana yang mereka gunakan untuk itu. Yang jelas, ratusan juta dolar AS tiap tahunnya. Sebut saja, untuk misi kemanusiaan di Irak bersamaan dengan invasi sekutu tidak kurang dari 10 juta dolar AS dihabiskan, 2,5 juta di antaranya dipakai untuk bantuan kesehatan. Hanya saja, Time tidak menyebut sudah berapa banyak Muslim yang pindah agama akibat misi Evangelis tersebut. erd/times


    Teori 'Mendirikan Tenda'


    Perempuan itu bukan seorang Muslimah. Hampir setiap hari, dengan mengenakan burka berwarna gelap, dia mendatangi sebuah kelas kecil yang kaku di daerah Queen, New York, AS. Dia berbicara soal keislaman, dunia Muslim, dan negara-negara Islam, serta karakteristiknya.

    Murid-muridnya, usia antara 20-30 tahun, juga bukan orang-orang Islam yang kebetulan tinggal di sana. Mereka adalah para misionaris muda dan baru yang sedang mempelajari strategi untuk menjadi misionaris di negara-negara dengan mayoritas berpenduduk Muslim.

    Shafira, begitu nama samarannya, mengajarkan tentang hati orang-orang Muslim yang tidak pernah membenarkan adanya kekerasan. Apa pun alasannya. Wanita itu juga menyebut lima rukun Islam yang menjadi pilar utama agama yang diutus Allah lewat Nabi Muhammad. ''Banyak kesamaan antara Islam dan Kristen,'' kata Shafira.

    Tak lama kemudian, seorang wanita bernama Barbara, tanpa mengenakan burka, mengeluarkan daftar perbandingan antara Nabi Muhammad dan Yesus Kristus. Kata dia, Yesus muncul dari kematian dan sekarang hidup. Muhammad mati. Mengutip ucapan Jaksa Agung AS, John Ashcroft, Barbara mengatakan Islam adalah agama di mana Tuhan memerlukan manusia dengan mengorbankan anaknya, sedangkan Kristen mengutus seorang anak untuk mati demi manusia.

    Keduanya adalah misionaris yang tergabung dalam US Center for World Mission. Pekerjaan mereka menyebarkan ajaran Injil kepada seluruh umat manusia di seluruh dunia. Kelompok ini menyebarkan ajaran Kristen Evangelis yang dianut Presiden AS George W Bush. Jumlah pembawa kabar Evangelis di seluruh dunia mencapai 33 persen dari total misionaris.

    Yang dilakukan Shafira dan Barbara bukan sekadar main-main. Mereka mengajarkan nilai-nilai keislaman, baik dari sisi positif maupun negatif, kepada para calon misionaris yang akan disebar di berbagai negara Muslim.

    Cara lama, mengkristenkan secara langsung, mereka tinggalkan. Terlalu besar risikonya.
    Peristiwa naas yang dialami misionaris AS, Heather Mercer (24) dan Dayna Curry (29), yang sempat diculik Taliban di Afghanistan memberikan pelajaran berarti bagi kaum Evangelis.

    Mercer dan Curry masih untung tidak dibunuh. Misionaris Martin Burnham tewas di tangan gerilyawan Abu Sayyaf pada tahun 2001 di Filipina. Lainnya, seorang misionaris wanita, Bonnie Witherall, tertangkap dan terbunuh di Lebanon November lalu. Hal itu memaksa kelompok ini mengubah metoda penyebaran gembala-gembalanya. Cara baru itu disebut ''mendirikan tenda''.

    Intinya, mereka menyebarkan ajaran Evangelis dengan memanfaatkan berbagai infrastruktur yang ada. Para misionaris disediakan dana untuk membangun yayasan, sekolah, perusahaan, kelompok diskusi, kelompok konseling, dan lain sebagainya sebagai upaya menarik kaum Muslim masuk ke agama mereka. Apostle Paul adalah pelopor gerakan ''mendirikan tenda'' ini. Misionaris tidak hanya mengemban tugas suci.

    Mereka juga dibayar, layaknya seorang profesional yang bekerja di suatu perusahaan. Pengikut berikutnya, sebut saja Henry dan Sarah, menerapkan teori ''mendirikan tenda'' dalam melaksanakan misi kudus di Afrika Utara. Ketika pertama menjalankan tugas itu, keduanya mengatakan tidak akan berkhutbah di hadapan ''korban-korbannya''.

    ''Kami ingin hidup di sini,'' kata Sarah. Mereka pun benar-benar hidup, membangun keluarga, memiliki anak, bertetangga, dan berbisnis. Selama itu pula, misi dijalankan sesuai dengan tujuan semula: mengkristenkan mereka yang non-Evangelis. Misi sukses dan banyak Muslim yang menganut Kristen.

    Dalam ''mendirikan tenda'', kaum misionaris juga memakai cara empati. Mereka menyamarkan keyakinan mereka dan merasa seperti kebanyakan orang Islam. Nilai-nilai keislaman seperti yang diungkapkan Shafira kepada calon misionaris menjadi komoditas mereka. Kepada Muslim, mereka berbicara soal kalimat syahadat dan lainnya sebelum digiring ke ''Masjid Yesus''.

    Untuk cara ini memang tidak mudah. Ibrahim Hooper, dari Majelis Hubungan Islam-Kristen Washington, mengatakan Muslim akan mengetahui modus seperti itu. Jika ketahuan, dampaknya fatal. Di negara penganut Syiah seperti di Iran, misionaris yang tertangkap akan dihukum mati. Begitu juga yang diterapkan Arab Saudi dan beberapa negara Timur Tengah lainnya. Namun demikian, misi tetap terus jalan.

    Pendekatan ''mendirikan tenda'' yang didasarkan pada rasa cinta tergolong sukses, setidaknya itu yang tampak di Afrika, Amerika Latin, Asia, dan sejumlah negara Timur Tengah. Itu pun tidak terlepas dari kemampuan dan pemahaman orang-orang Evangelis yang lebih dalam tentang keislaman dibandingkan kebanyakan warga AS lainnya. Barbara dan Shafira adalah contoh nyata bagaimana mereka memiliki pengetahuan Islam yang memadai untuk mengkristenkan umat Islam. elba damhuri/tim

    Cek Link US Center for world mission :
    http://www.uscwm.org/
    http://www.missionfrontiers.org/

      Waktu sekarang Tue 28 Feb 2017, 21:55